Tokoh Adat Biak Numfor Apresiasi Seminar Mitigasi Sisa Bahan Peledak PD II

  • 28 Jul 2026 08:44 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID,Biak – Dalam rangka memperingati Hari Bakti TNI Angkatan Udara ke-79, Komando Daerah TNI Angkatan Udara (Kodau) III menyelenggarakan Seminar Nasional Mitigasi Ancaman Sisa Bahan Peledak Perang Dunia II (Explosive Remnants of War/ERW). Kegiatan berlangsung di Gedung Serba Guna Subardi Kodau III, Senin 27 Juli 2026, dan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Panglima Kodau III, Marsda TNI Dr. Azhar Aditama D., S.Sos., M.M., M.Han., menjelaskan bahwa sisa bahan peledak sejak tahun 1944 hingga kini masih banyak tertinggal di wilayah Biak. Oleh karena itu, langkah utama yang diupayakan adalah identifikasi, melokalisasi, dan pemusnahan secara terencana.

“Kita tidak menyalahkan pihak mana pun, namun mari bersama-sama mengidentifikasi dan melokalisasi barang tersebut, lalu kami akan memusnahkannya,” ujar Panglima.

Sesuai hukum internasional, pihak yang bertanggung jawab atas sisa bahan peledak adalah negara pemiliknya. Kerja sama yang telah disepakati melalui Menteri Pertahanan akan mendatangkan tim ahli dari negara-negara terkait untuk melaksanakan pemusnahan bersama TNI, Polri, Pemerintah Daerah, serta masyarakat adat dan warga Biak.

Panglima juga menyampaikan keprihatinan atas pemanfaatan sisa bahan peledak oleh sebagian warga karena alasan ekonomi. Sebagai solusi, pihaknya bersama Pemerintah Daerah menawarkan kompensasi ekonomi bagi warga yang menemukan dan melaporkan sisa bahan peledak kepada pihak berwenang, tanpa harus mengambil risiko sendiri.

“Barang ini sangat berbahaya. Kondisinya kini tidak dapat diprediksi, apakah masih aktif atau justru makin peka. Serahkan kepada para ahlinya untuk dimusnahkan. Laporkan kepada kami, dan kami berikan imbalan yang layak,” tegasnya.

Pemusnahan secara menyeluruh direncanakan akan segera berjalan setelah kebijakan khusus pemerintah pusat diterbitkan.

Tanggapan hangat disampaikan Tokoh Adat Kabupaten Biak Numfor atas terselenggaranya Seminar Nasional Mitigasi Ancaman Sisa Bahan Peledak Perang Dunia II ini.

Sefnat Koibur, Tokoh Adat sekaligus juru bicara Kankain Karkara Byak, menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada penyelenggara, khususnya pihak TNI Angkatan Udara, dikatakan bahwa kegiatan seperti ini baru pertama kali digelar di Biak Numfor.

"Kami sangat berharap unsur TNI lainnya maupun Kepolisian juga melakukan hal serupa, sehingga masyarakat benar-benar merasa terayomi, terjaga, dan terlindungi dengan baik," ujarnya.

Menurutnya Biak dan wilayah Saireri merupakan wilayah zona damai, sehingga keamanan dari ancaman sisa bahan peledak menjadi prioritas bersama.

Ia juga menegaskan tanggung jawab utama pembersihan sisa amunisi dan ranjau ada pada negara-negara yang terlibat dalam pertempuran Biak pada masa Perang Dunia II.

“Wilayah yang paling berbahaya itu berada di area pinggiran Pantai, seperti dari Sorido hingga Mokmer, serta perairan Pulau Undi dan Pulau Nusi yang diduga masih ada sisa amunisi maupun ranjau yang masih terkubur,”ungkapnya.

Poin yang tak kalah penting disampaikan adalah tekanan ekonomi yang mendorong sebagian warga mengambil risiko berbahaya. Ia menyayangkan warga yang karena kurangnya pemahaman dan kesulitan ekonomi, terpaksa menyalahgunakan sisa bahan peledak yang bisa memakan korban jiwa.

"Kami meminta pemerintah daerah juga memikirkan jalan keluar atas tekanan ekonomi ini, agar warga tidak lagi terpaksa melakukan hal-hal yang membahayakan nyawa. Harapannya, selain upaya pembersihan, juga disiapkan solusi ekonomi agar warga tidak lagi tergoda memanfaatkan sisa peledak demi keuntungan sesaat,”ugkapnya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....