Sinergi Lintas Sektor Perkuat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit di Biak

  • 24 Jul 2026 07:22 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID,Biak – Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, melalui Dinas Kesehatan melaksankan kegiatan koordinasi, advokasi, dan sosialisasi dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), berlangsung di KSL Ballroom Biak, selama dua hari mulai 23 hingga 24 Juli 2026. Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun langkah bersama menurunkan beban penyakit menular maupun tidak menular di wilayah Kabupaten Biak Numfor.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor, advokasi kebijakan, serta sosialisasi luas kepada masyarakat. Secara khusus, forum ini mengupayakan penguatan upaya preventif dan promotif, respon cepat terhadap kejadian penyakit, meningkatkan komitmen kemitraan strategis, mengurangi stigma masyarakat terhadap penyakit seperti Tuberkulosis (TBC), HIV, kusta, serta gangguan jiwa. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong kesadaran deteksi dini di tingkat kampung dan distrik, serta meningkatkan pemahaman para pemimpin wilayah dalam mengambil kebijakan terkait intervensi bidang kesehatan.

Metode yang digunakan selama dua hari ini meliputi paparan kebijakan dan capaian program, diskusi tanya jawab, sesi panel dengan puskesmas berprestasi terbaik, diskusi terarah lintas sektor, hingga perumusan kesepakatan dan rencana tindak lanjut. Diharapkan kegiatan ini menghasilkan komitmen bersama, rekomendasi percepatan capaian sumber daya manusia kesehatan, serta aturan pendukung program yang terukur dan nyata.

Peserta yang hadir meliputi unsur Pemerintah Daerah, DPRK, Kementerian Agama, Bappeda, BPKAD, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, DPMK, serta Organisasi Perangkat Daerah lainnya. Hadir pula kepala dan penanggung jawab program P2P dari 21 puskesmas se-Kabupaten Biak Numfor.

Dalam sambutannya yang dibacakan Asisten II Setda Biak Numfor, Ottow Wanggai, Bupati Biak Numfor menyatakan pembangunan kesehatan menjadi salah satu pilar utama visi misi daerah.

“Saat ini kita masih menghadapi tantangan beban ganda penyakit, tingginya angka TBC dan HIV/AIDS, serta tren kenaikan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes,” ujarnya.

Bupati menegaskan penanganan kesehatan tidak bisa dibebankan hanya kepada Dinas Kesehatan. Tiga poin penting ditekankan: pertama, penguatan lintas sektor melibatkan TNI, Polri, pemerintah distrik, kampung, tokoh adat dan agama untuk menyebarkan budaya hidup bersih dan sehat. Kedua, menggalakkan deteksi dini kasus malaria, TBC, hingga kusta di seluruh puskesmas, agar masyarakat tidak menunggu sakit parah baru berobat. Ketiga, memanfaatkan sepenuhnya layanan dan program kesehatan yang disediakan pemerintah secara cuma-cuma bagi warga.

“Mari kita wujudkan Biak Numfor yang tangguh, sehat, dan bebas dari ancaman penyakit prioritas,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Biak Numfor Daud Nataniel Duwiri, SKM., M.Kes., menjelaskan kegiatan ini sejalan dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, serta visi misi Kementerian Kesehatan 2025–2029 demi mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal ini juga selaras dengan visi daerah mewujudkan masyarakat Biak Numfor yang cerdas, sehat, dan mandiri.

Ia memaparkan capaian indikator kesehatan tahun 2025: Umur Harapan Hidup mencapai 71,21 melampaui target 70,93; meski Angka Kematian Ibu dan Bayi masih perlu dikejar target, serta angka stunting berhasil ditekan hingga 8,29 persen—jauh di bawah target 18,8 persen.

“Namun, tantangan besar masih dihadapi. Kasus kusta di Biak Numfor menempati urutan pertama di Provinsi Papua. Bukan karena diabaikan, melainkan karena jajaran tenaga kesehatan kita sangat teliti dalam melakukan deteksi dan penelusuran kasus hingga ke kampung-kampung,” tegasnya.

Kabupaten Biak Numfor masih berstatus lokus prioritas nasional dalam pengendalian penyakit menular maupun tidak menular. Selama lima tahun terakhir, wilayah ini berstatus endemis tinggi Malaria dengan Annual Parasite Incidence naik dari 9,94 permil (2021) menjadi 30,99 permil dan tercatat 4.425 kasus pada tahun 2025.

- Penemuan kasus baru Tuberkulosis mencapai 57% dari target 795 kasus pada 2025

- Inisiasi pengobatan ARV pasien HIV baru mencapai 79,1% dari target 95%, terkendala stigma serta layanan PDP yang baru tersedia di 10 dari 21 Puskesmas

- Kasus baru Kusta menurun dari 558 kasus (2024) menjadi 375 kasus (2025), namun perlu dikaji lebih lanjut validitas epidemiologisnya

- Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap masih rendah, yaitu 36,56% pada tahun 2025, disebabkan kondisi geografis kepulauan dan keterbatasan akses

- Kasus Hipertensi (8.857 kasus) dan Diabetes Melitus (4.879 kasus) pada 2025 menegaskan perlunya penguatan Posbindu PTM dan CERDIK

- Temuan ODGJ meningkat dari 54 orang (2021) menjadi 218 orang (2025), seiring perluasan skrining Cek Kesehatan Gratis

“Kami tenaga kesehatan sudah berjuang semampu kami, namun keberhasilan tidak akan tercapai jika berjalan sendiri. Kami butuh dukungan seluruh pemangku kepentingan untuk mencari solusi bersama, demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mempersiapkan generasi emas tahun 2045,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan.

Kegiatan ini diharapkan melahirkan komitmen nyata dan sinergi kokoh seluruh pihak, guna mewujudkan masyarakat Biak Numfor yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....