Pelatihan Sanitasi Sekolah yang Ramah Iklim, dan Inklusif Bagi SD di Biak Numfor

  • 22 Jul 2026 17:08 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID,Biak – Yayasan Gapai Harapan berkolaborasi bersama UNICEF dan Pemerintah Daerah Biak Numfor melaksanakan kegiatan pelatihan sanitasi sekolah yang ramah iklim, dan inklusif di Papua, program Papua Tangguh Tahun 2026. Melibatkan 10 Sekolah Dasar di Kabupaten Biak Numfor, berlangsung selama 2 hari 22-23 juli 2026.

Dalam kesempatan ini, Perwakilan UNICEF Papua, Reza Hendrawan, mengatakan, setelah sukses mendukung Biak Numfor sebagai kabupaten pertama di Tanah Papua yang bebas buang air besar sembarangan pada tahun 2023, UNICEF Papua kini kembali dengan mendorong program sanitasi sekolah yang ramah iklim dan inklusif.

Ia menjelaskan, capaian tahun 2021–2023 yang berhasil mengubah perilaku masyarakat tak lepas dari dukungan luar biasa pemerintah daerah dan warga Biak Numfor. Kini fokus dialihkan ke lingkungan pendidikan mulai dari SD, SMP hingga SMA agar menjadi teladan bagi lingkungan sekitar.

"Sanitasi sekolah bukan sekadar soal infrastruktur semata, melainkan mencakup tiga komponen utama yang harus berjalan beriringan," ujar Reza.

Tiga komponen tersebut meliputi, pertama, ketersediaan sarana dasar yakni sumber air bersih, toilet terpisah laki-laki dan perempuan yang bersih, serta sarana cuci tangan pakai sabun; kedua, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan ketiga, manajemen sekolah yang memastikan sarana tersebut terus terawat dan terkelola dengan baik.

Menurut Reza, perubahan perilaku lewat sekolah sangat strategis. Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun terbukti menurunkan angka sakit dan ketidakhadiran siswa.

"Jika kesehatan terjaga, kehadiran di sekolah makin terjaga, prestasi belajar pun akan meningkat. Anak-anak juga akan menjadi agen perubahan yang membawa kebiasaan baik ini hingga ke lingkungan rumah masing-masing," jelasnya.

Dalam tahap awal, program ini menyasar 10 sekolah sebagai percontohan. UNICEF berharap Pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui Dinas Pendidikan dan BAPPEDA dapat mengalokasikan anggaran pada tahun mendatang untuk mereplikasi ke seluruh sekolah yang ada.

"Kami memilih Biak karena dukungan pemerintahnya sangat responsif, terbuka berkolaborasi dan turut mengalokasikan dana. Hal ini menjamin program tidak hanya berjalan sesaat, tapi berkelanjutan," ungkapnya.

Sementara itu, mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Biak Numfor, Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Irene Samberi, S.S., M.Sc., mengapresiasi langkah kolaboratif ini. Menurutnya, urusan layanan dasar bersifat kompleks dan tak bisa diselesaikan sendirian oleh pemerintah.

"Yang paling sulit memang mengubah pola pikir dan kebiasaan. Perubahan itu harus tumbuh dari dalam diri, namun butuh dorongan terus-menerus agar menjadi karakter dan budaya," ujar Irene.

Ia menambahkan, konsep sanitasi ini sejalan dengan upaya yang telah berjalan sebelumnya, mulai dari gerakan cuci tangan hingga penghentian buang air sembarangan. Ke depannya, sekolah umum diharapkan tak hanya mengajarkan akademik, tetapi juga mampu melayani kebutuhan anak berkebutuhan khusus sejalan dengan prinsip inklusif.

"Kepada 10 sekolah yang menjadi percontohan, jadikanlah bekal ini landasan untuk terus bergerak. Jangan berhenti setelah pelatihan selesai, tapi teruskan secara konsisten dan tularkan hal baik ini ke sekolah lainnya. Kami berharap pengawas dapat memantau dan melaporkan perkembangannya agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak kita," ungkap Irene.

Kegiatan ini juga turut menghadirkan pihak Kesehatan baik dari Dinas Kesehatan maupun Puskesmas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....