Peran Sektor Pertanian dan Peternakan di Biak Numfor untuk mendongkrak PAD
- 23 Jun 2026 17:55 WIB
- Biak
RRI.CO.ID,Biak – Sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Biak Numfor dinilai memiliki peran strategis tidak hanya dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga sebagai penopang utama ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat. Kedua sektor ini menjadi andalan dalam menciptakan kesejahteraan dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Hal tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Biak Numfor, drh. Bambang Hayanto. Menurutnya, sub sektor pertanian, peternakan, dan perkebunan merupakan tulang punggung ekonomi daerah yang memberikan dampak luas bagi masyarakat.
"Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, kami menilai ketiga sektor ini sangat strategis. Selain untuk peningkatan PAD, juga berperan dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan dan tentunya memberikan peluang kerja yang besar bagi masyarakat kita,"ujarnya pada Selasa 23 Juni 2026.
Dalam pengembangannya, pemerintah daerah tetap berpedoman pada peraturan yang berlaku, termasuk Perda Nomor 5 Tahun 2023 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Pengelolaan sumber daya dan potensi daerah diarahkan agar kontribusinya terhadap keuangan daerah dapat terkelola dengan baik dan sesuai ketentuan.
Untuk sektor peternakan, pengembangan difokuskan pada komoditas unggulan yang sudah berjalan, yakni ayam potong dan ayam petelur. Langkah ini diambil karena dinilai memiliki prospek yang baik dan dapat memberikan hasil yang nyata bagi daerah.
"Kita saat ini mengembangkan peternakan dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, seiring dengan upaya peningkatan PAD," ujarnya.
Di sisi lain, sektor pertanian juga memiliki andalan berupa Balai Benih Utama (BBU) yang berperan penting dalam menyediakan benih berkualitas untuk petani. Sementara do sektor peternakan, pemerintah juga menjalin kerja sama erat dengan asosiasi pelaku usaha untuk memaksimalkan potensi yang ada.
"Saat ini kita sudah mencapai tingkat swasembada telur. Meskipun masih ada beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi dari luar daerah, namun kita terus mengembangkan potensi yang ada. Khusus untuk APPU, kita sudah mengadakan rapat untuk membahas bagaimana peran serta mereka dalam memberikan kontribusi bagi peningkatan PAD daerah," Ujarnya.
"Tantangan pasti ada, tapi kita akan perbaiki semua fasilitas yang masih kurang. Kita juga akan bekerja sama dengan para ahli untuk menerapkan ilmu dan teknologi terbaru agar produksi dapat meningkat. Kita akan terus berkolaborasi dengan semua pihak agar target peningkatan PAD dapat tercapai," tegasnya.
Sementara itu, Ketua APPU Biak Numfor, Tery Sroyer, menjelaskan bahwa asosiasi yang dibentuk pada Desember 2024 ini beranggotakan 65 peternak ayam petelur yang tersebar di 19 distrik di Biak Numfor. Sebelumnya, para peternak sudah berkoordinasi secara mandiri dengan pemerintah sejak tahun 2020.
"Anggota kami memiliki skala usaha yang beragam, mulai dari peternak dengan kapasitas kecil hingga yang memiliki kandang dengan jumlah ribuan ekor. Ada yang menggunakan sistem kandang sederhana, semi permanen, hingga permanen. Awalnya kami terbagi menjadi tiga kelompok, dan setelah rapat dengan Pemerintah Daerah pada 18 Juni lalu, kami dibagi menjadi 10 kelompok agar pendampingan dan pembinaan dapat berjalan lebih efektif," ungkap Tery.
Ia menambahkan Produksi telur yang dihasilkan tidak hanya mencukupi kebutuhan di daerah, tetapi juga sudah dipasok ke luar daerah seperti Wamena, Waropen, Mamberamo, dan Supiori. Tery menekankan bahwa telur hasil produksi lokal memiliki kualitas yang baik dan kandungan gizi yang lebih tinggi dibandingkan produk dari luar daerah.
"Kami yakin telur lokal Biak Numfor mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar di daerah ini. Kualitasnya terjamin dan harganya terjangkau. Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi agar dapat lebih banyak memberikan manfaat," ujarnya.
Sebagai wujud kerja sama dengan pemerintah daerah, para peternak yang tergabung dalam APPU telah menyepakati untuk adanya kontribusi langsung bagi daerah.
"Kami sepakat, setiap butir telur yang dihasilkan akan memberikan kontribusi bagi PAD daerah. Dari 65 peternak, jika dihitung 75 ribu per rak telur di kalikan dengan dan dalam kurun waktu 10 bulan saja, kontribusi yang dapat diberikan mencapai 1,5 miliar rupiah," jelasnya.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pihaknya membutuhkan dukungan dan perlindungan dari pemerintah daerah. Salah satu harapan utama adalah adanya peraturan yang dapat melindungi produksi lokal dan mengatur peredaran produk dari luar daerah.
"Kami berharap pemerintah dapat membuat kebijakan yang jelas, misalnya dengan membatasi atau mengatur peredaran telur dari luar daerah. Jika produksi lokal terus tertekan karena masuknya produk dari luar, maka tujuan kita untuk meningkatkan PAD dan menjamin ketahanan pangan tidak akan tercapai. Di saat kita mengalami kekurangan, tentu kita tetap mengizinkan telur dari luar, tapi di saat produksi lokal sudah cukup, kita berharap produk lokal Biak lebih diutamakan," Ungkapnya.
Diharapkan dengan kerja sama dan kolaborasi yang kuat, sektor pertanian dan peternakan tidak hanya akan menjadi sumber pendapatan daerah, tetapi juga dapat menciptakan stabilitas harga, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan sesuai dengan visi pembangunan daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....