Penguatan Edukasi Gizi dan Kantin Sehat Sekolah di Biak Numfor

  • 22 Mei 2026 15:42 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID,Biak – Dalam upaya mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan meningkatkan kualitas kesehatan sejak dini, Yayasan Jenewa Indonesia berkolaborasi dengan UNICEF melaksanakan kegiatan Penguatan Edukasi Gizi dan Kantin Sehat di Satuan Pendidikan Kabupaten Biak Numfor.

Kegiatan yang berlangsung di Swis-Bellhotel Cendrawasih Biak ini, dilaksanakan selama dua hari, 21 - 22 Mei 2026 ini, melibatkan lintas instansi mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Koordinator Pengawas SD, hingga Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Biak Numfor.

Kegiatan ini mengangkat dua tema utama, yakni Lokakarya Ko-Kreasi Panduan Praktis Tata Kelola dan Implementasi Edukasi Gizi Program MBG di Satuan Pendidikan, serta Peningkatan Kapasitas Kantin Sehat di Satuan Pendidikan.

Dalam kesempatan ini, Widya Prada Direktorat Sekolah Dasar sekaligus Pembina Tim Kerja Pembinaan Peserta Didik dan Penguatan Karir Ditjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen Kemendikdasmen, Minhajun Abidin, menyampaikan apresiasi kepada UNICEF selaku mitra strategis, Yayasan Jenewa Indonesia sebagai pelaksana, serta Pemerintah Daerah Biak Numfor atas komitmennya memajukan kesehatan dan pendidikan anak. Ia menegaskan, sejalan arahan Presiden Republik Indonesia, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan anak, namun yang terpenting adalah membentuk karakter yang kuat, berakhlak mulia, serta menjamin kesehatan jasmani dan rohani peserta didik.

“Kecerdasan dan karakter yang baik harus didasari oleh kesehatan tubuh dan pikiran. Oleh karena itu, Upaya Kesehatan Sekolah (UKS), Gerakan Sekolah Sehat, serta edukasi gizi harus kita perkuat bukan hanya sebagai administrasi semata, namun menjadi aktivitas nyata sehari-hari anak. Mulai dari pola makan baik, aktivitas fisik cukup, imunisasi, hingga kesadaran menjaga lingkungan dan kesehatan mental,” ujarnya

Ia juga mengaitkan upaya ini dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Baik Anak Indonesia Hebat, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, belajar rajin, bermasyarakat, dan istirahat cukup. Khusus terkait pola makan di lingkungan sekolah, Ia menyebutkan terdapat tiga pola kebiasaan anak, yaitu membawa bekal, membeli jajanan di kantin atau lingkungan sekolah, serta Makan Bergizi Gratis. Ketiga hal ini menjadi fokus utama agar edukasi gizi di sekolah dapat berdampak hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sementara itu, Perwakilan UNICEF, Aireen Rosita selaku Ahli Gizi, menjelaskan bahwa Kabupaten Biak Numfor dipilih sebagai salah satu daerah percontohan atau wilayah percontohan nasional. Di Biak, program ini dijalankan di 48 sekolah mitra dengan tujuan mengintegrasikan program gizi sekolah dengan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik.

Menurutnya, penyediaan makanan bergizi saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan edukasi pemahaman gizi. Hal ini didasarkan pengalaman pelaksanaan percontohan awal Program MBG, di mana jenis makanan yang paling banyak terbuang adalah sayuran.

“Kami mengadopsi konsep Shokuiku atau pendidikan makanan dari Jepang, di mana pemberian makan di sekolah diinternalisasikan menjadi proses pembelajaran dan pembiasaan. Anak-anak tidak hanya makan, tetapi diajarkan memahami asal-usul makanan, kandungan gizi, serta menghargai proses panjang dari petani hingga tersaji di meja makan. Sehingga mereka menghabiskan makanan dengan rasa syukur dan mengerti manfaatnya bagi tubuh,” jelasnya.

Ia mengingatkan, pembiasaan makan sehat dan edukasi gizi sejak dini sangat krusial untuk mencegah risiko penyakit di masa depan akibat kelebihan berat badan atau obesitas, yang berpotensi memicu penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung, hingga kanker.

Selain membahas materi edukasi gizi, kegiatan ini juga memfokuskan perhatian pada perbaikan kualitas kantin sekolah. Ia menegaskan, perubahan yang diharapkan bukanlah perbaikan fisik bangunan semata, namun perubahan jenis makanan yang dijual. Makanan yang tinggi gula, garam, dan lemak seperti mi instan, minuman sachet, serta gorengan, diharapkan perlahan diganti dengan makanan yang lebih sehat seperti hasil rebusan umbi-umbian, buah-buahan, dan air putih.

“Kami tidak membutuhkan kantin yang mewah, namun kami butuh kantin yang menjual makanan sehat dan higienis. Hal kecil seperti menyediakan air putih saja sudah merupakan langkah besar bagi kesehatan anak jangka panjang,” tegasnya.

Kegiatan penguatan ini melibatkan tim fasilitator dari berbagai kementerian dan lembaga, meliputi Kemendikdasmen (Direktorat SD, SMP, PAUD, serta Pusat Kurikulum), Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), UNICEF, dan Yayasan Jenewa Madani Indonesia. Hasil pertemuan ini nantinya akan dijadikan bahan penyempurnaan panduan teknis yang akan diterapkan secara luas di seluruh Indonesia demi keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....