Dedikasi Guru SLB Negeri Saireri Biak: Sabar, Tegas, dan Ikhlas Mendidik Anak Spesial

  • 16 Apr 2026 15:47 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak – Di balik setiap kemajuan anak berkebutuhan khusus, ada sosok guru yang bekerja dengan hati, kesabaran tingkat tinggi, dan ketekunan luar biasa. Hal inilah yang dijalankan oleh para pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Saireri, Jalan Raya Wadido, Sorido, Biak Numfor.

SLB Negeri Saireri memiliki 35 siswa dengan rincian: Autis 12 orang, Tuna Grahita 14 orang, Down Syndrome 2 orang, Tuna Rungu 6 orang dan Tuna Daksa 1 orang. Sekolah ini menyelenggarakan pendidikan dari jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB dalam satu atap.

Dengan total 35 siswa yang memiliki beragam keterbatasan ditangani oleh 10 orang guru (6 PNS dan 4 honorer) ini membuktikan bahwa pengabdian adalah kunci utama dalam mendidik generasi spesial ini.

Susilowati, S.Pd atau akrab dipanggil Ibu Susi, salah satu guru senior di sana, menceritakan perjalanan panjang sekolah dan tantangan yang dihadapi sehari-hari.

"Sekolah ini berdiri sejak 2016 dan resmi SK 2019, lalu menempati gedung sendiri di Sorido sejak Maret 2023. Awalnya kami menumpang di aula, bahkan saat pandemi kami harus berjuang ekstra," ujarnya kepada RRI Biak melalu Dialog Gerakan Membangun Papua, pekan lalu.

Ia menambahkan, mengajar di SLB memiliki seni tersendiri. Kuncinya bukan hanya mengajar, tapi mengerti karakter setiap anak.

"Kata kuncinya itu Sabar, Tekun, dan Tegas. Kalau menghadapi anak autis, kami harus tegas bukan berarti galak, tapi sikap harus tenang. Kalau mereka marah atau ngamuk, kami tidak boleh ikut emosi, kami diamkan dan pantau sampai mereka tenang sendiri. Sedangkan untuk anak tuna netra, kami latih kesabaran khusus untuk mengenal huruf Braille," jelasnya.

Pengabdian para guru ini semakin terlihat saat masa sulit pandemi. Karena tidak bisa tatap muka dan kondisi siswa yang beragam, mereka tidak membiarkan anak-anak tertinggal.

"Waktu Covid, kami tidak hanya kasih tugas lewat HP. Kami aktif mendatangi rumah-rumah siswa. Untuk anak tunarungu, kami pakai bahasa isyarat lewat video call, semua guru di sini wajib bisa bahasa isyarat. Kami kolaborasi erat dengan orang tua demi masa depan anak-anak," tambah Ibu Susi.

Sementara itu, Lely Lismayana, S.H, Guru yang menangani jenjang SMPLB dan SMALB, membagikan pengalamannya dalam membangun kedekatan emosional dengan murid.

"Saya lebih banyak melakukan pendekatan personal. Anak-anak ini juga punya perasaan, apalagi yang sedang masa transisi/pubertas. Kalau ada yang datang cemberut atau murung, saya ajak cerita dulu. Ternyata alasannya macam-macam, mulai dari tidak dibawakan bekal, sampai tidak bisa tidur karena kucing berkelahi," ceritanya.

Hal unik yang dilakukan Ibu Lely adalah mengubah keluh kesah anak menjadi materi pembelajaran yang menyenangkan.

"Itu saya kembangkan jadi pelajaran, kucing berkaki apa? Kucing bertelur atau beranak? Prinsip saya bukan menyembuhkan, tapi membuat mereka lebih luwes, lebih lembut, dan berani bercerita. Buktinya kalau saya izin satu hari, besoknya mereka pada cari dan tanya 'Ibu kemana?', itu bukti mereka sayang," ungkapnya dengan haru.

Ia juga menegaskan bahwa fokus pendidikan di SLB bukan pada nilai akademis semata, tapi lebih kepada keterampilan hidup (life skill).

"Kami tidak tuntut mereka harus pintar matematika atau IPA. Yang penting mereka punya kemampuan mandiri, supaya kelak orang tua tidak ada, mereka bisa hidup sendiri dan tidak bergantung pada orang lain," tegasnya.

Kedua guru SLB ini menyampaikan pesan yang menyentuh hati. Ibu Susi mengajak orang tua untuk tidak merasa malu dan takut untuk mendaftarkan anak anak mereka di SLB.

"Kepada orang tua, jangan malu membawa anaknya ke sini. Tidak usah takut dan ragu karena Guru-guru di SLB Negeri Saireri sudah terlatih, sudah ikut banyak bimtek, dan siap menerima anak-anak Bapak/Ibu dengan tangan terbuka," ajaknya.

Sedangkan Ibu Lely berpesan agar kita semua bisa menerima perperbedaa "Bagi orang tua yang dititipi anak spesial, berdamailah dengan diri sendiri. Terima keterbatasan mereka bukan sebagai kelemahan, tapi jadikan motivasi agar mereka bisa mandiri. Dan untuk generasi muda, jaga gaya hidup karena sangat berpengaruh untuk keturunan," ungkapnya mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....