Mengenal SLB Negeri Saireri Biak, Rumah Belajar Anak Berkebutuhan Khusus

  • 16 Apr 2026 13:29 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak – Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Saireri di Sorido, Biak Numfor, hadir sebagai wadah pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan semangat kesabaran, ketekunan, dan ketegasan, sepuluh guru di sini mendidik total 35 siswa dengan berbagai jenis keterbatasan, mulai dari tunanetra, tunarungu, autis, hingga down syndrome.

Sekolah ini telah berjalan cukup lama meski menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masa pandemi hingga perpindahan lokasi. Berdiri sejak tahun 2016 dan resmi ber-SK pada Juli 2019, sekolah ini kini telah menempati gedung sendiri di Jalan Raya Wadido, Sorido, sejak 16 Maret 2023.

Guru SLB Negeri Saireri, Susilowati, S.Pd menjelaskan bahwa sekolah ini menangani lima kategori utama anak berkebutuhan khusus. "SLB ini menangani anak Tuna Netra, Tuna Grahita, Tuna Rungu Wicara, Down Syndrome, dan Autis. Awalnya kami menumpang di aula tuna netra, tapi alhamdulillah sekarang sudah memiliki gedung sendiri di Sorido," ujarnya melalui Dialog Gerakan Membangun Papua RRI Biak pekan lalu.

Saat ini, SLB Negeri Saireri memiliki 35 siswa dengan rincian: Autis 12 orang, Tuna Grahita 14 orang, Down Syndrome 2 orang, Tuna Rungu 6 orang dan Tuna Daksa 1 orang.

Sekolah ini menyelenggarakan pendidikan dari jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB dalam satu atap.

"Kami memiliki 10 guru, 6 PNS dan 4 honorer. Kami membagi kelas sesuai kemampuan. Saat ini kami sudah menerapkan Kurikulum Merdeka, namun kami sesuaikan dengan kompetensi anak, tidak memaksakan standar biasa, tapi lebih ke deep learning dan keterampilan hidup (life skill)," jelasnya.

Awal berdiri pada Masa pandemi Covid-19 menjadi tantangan tersendiri. Karena tidak bisa belajar tatap muka penuh dan kondisi siswa yang beragam, sehingga guru-guru aktif mendatangi langsung ke rumah siswa.

"Waktu Covid, kami aktif mendatangi rumah-rumah siswa. Kami ajak orang tua berkolaborasi. Untuk anak tunarungu, kami pakai bahasa isyarat lewat video call. Semua guru di sini semua bisa bahasa isyarat," ungkapnya.

Sementara itu, Lely Lismayana, S.H, salahsatu guru lainnya, menambahkan, kuncinya adalah tidak boleh membiarkan anak tertinggal. "Kami kunjungi, kami ajarkan sebisa mungkin. Walaupun berat, semangat ibu-ibu tinggi supaya anak-anak tetap dapat ilmu," ucapnya.

Mengajar anak berkebutuhan khusus memiliki seni tersendiri, kuncinya adalah Sabar, Tekun, dan Tegas.

"Mengajar anak autis itu harus tegas, bukan galak. Wajah harus tenang, tidak boleh tertawa seenaknya, kuncinya kesabaran tingkat tinggi. Kalau mereka marah atau ngamuk, kita diamkan dulu, tapi tetap dipantau, nanti juga tenang sendiri," ujarnya

Sementara itu, pendekatan personal diterapkan Ibu Lely terutama untuk siswa SMPLB dan SMALB yang sedang dalam masa transisi atau pubertas.

"Saya ajak mereka curhat dulu. Kalau ada yang datang cemberut, saya biarkan dulu, baru diajak cerita. Ternyata alasannya macam-macam, mulai dari bekal tidak ada, sampai tidak bisa tidur karena kucing berkelahi. Itu justru saya jadikan materi pembelajaran. Prinsip kami bukan menyembuhkan, tapi membuat mereka lebih luwes dan bisa berinteraksi," ungkapnya.

Kecintaan anak-anak pada gurunya pun terlihat nyata. "Kalau saya izin satu hari, besoknya mereka pada cari dan tanya Ibu kemana, Itu bukti mereka sudah sayang," ungkapnya dengan bangga.

“Bagi orang tua yang diberi amanah anak spesial, berdamailah dengan diri sendiri. Terima keterbatasan mereka bukan sebagai kelemahan, tapi jadikan motivasi. agar mereka kelak bisa mandiri," tambahnya.

Dalam kesempatan in PIhak SLBN Saireri mengajak orang tua untuk tidak malu atau takut mendaftarkan anaknya karena di SLB Negeri Saireri memiliki guru yang sudah terlatih dan sudah ikut banyak bimbingan teknis, siap mendampingi anak-anak yang membutuhan penanganan khusus.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....