Pangkalan Udara Biak Numfor: Jejak Sejarah Perang Dunia II
- 24 Feb 2025 19:12 WIB
- Biak
KBRN, Biak : Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Arkeologi Papua mengungkapkan pentingnya Biak Numfor sebagai salah satu pangkalan udara strategis selama Perang Dunia II. Penelitian ini dilakukan oleh Sonya M. Kawer dari Balai Arkeologi Papua, yang mencatat adanya peninggalan tiga wilayah pangkalan udara di Kabupaten Biak Numfor, yaitu di Pulau Owi, Pulau Numfor, dan Kota Biak.
Dalam hasil temuan tersebut, di Pulau Owi terdapat empat pangkalan udara yang dibangun oleh pasukan Jepang sebelum berhasil direbut oleh Sekutu. Sementara di Pulau Numfor, tercatat ada empat pangkalan—tiga dibangun oleh Jepang dan satu oleh Sekutu. Di Kota Biak sendiri, terdapat tiga pangkalan udara yang juga dibangun oleh pasukan Jepang. Hal ini menunjukkan betapa strategisnya posisi Biak dalam konteks kontrol wilayah di Pasifik.
Sejak tahun 1942, Jepang menjadikan Biak sebagai markas pertahanan dalam upaya menguasai wilayah tersebut. Komandan pasukan Jepang, Kolonel Naoyuki Kuzume, memanfaatkan kondisi alam Biak yang bergunung-gunung sebagai benteng pertahanan melawan serangan Sekutu.
Biak Numfor, terletak di barat wilayah Pasifik, menjadi titik penting dalam strategi militer Jepang. Penelitian ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak – Jepang dan Sekutu – telah membangun infrastruktur militer yang signifikan untuk mendukung operasi mereka, dengan bukti berupa bangunan-bangunan dan peralatan perang yang tersisa masih bisa ditemukan di wilayah ini.
Menurut Sonya, daerah Biak sangat menarik untuk penelitian arkeologi, karena selain menyimpan banyak sisa-sisa perang, juga mencerminkan dinamika sosial dan ekonomi masyarakat saat itu. Banyak tenaga kerja sipil dari Pulau Jawa yang dipaksa untuk membangun pangkalan udara ini, yang menambah dimensi kemanusiaan dalam sejarah perang tersebut.
Pangkalan udara yang ada di Biak Numfor menjadi simbol perlawanan dan perjuangan yang terjadi di kawasan ini selama Perang Dunia II, serta pentingnya memahami sejarah untuk masa depan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk konservasi dan pendidikan mengenai warisan sejarah di wilayah Papua.
Dengan adanya penemuan ini, Peneliti berharap bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberadaan situs-situs sejarah perang yang ada di Indonesia, serta mendorong usaha pelestarian warisan budaya yang kaya ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....