Legenda Takjil Nusantara: Kolak di Bulan Suci

  • 19 Feb 2026 18:30 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Bulan Ramadhan selalu identik dengan makanan manis saat berbuka puasa. Salah satu yang paling populer adalah kolak biji salak. Meski namanya unik, makanan ini tidak memakai buah salak. Dilansir dari goodnewsfromindonesia, kolak biji salak dibuat dari ubi jalar yang dibentuk bulat kecil, lalu disajikan dengan kuah gula merah dan santan.

Rasanya manis dan gurih, dengan tekstur yang lembut dan kenyal. Bentuknya menyerupai biji buah salak, itulah sebabnya dinamakan “biji salak”. Warnanya biasanya cokelat atau oranye, berpadu dengan kuah gula merah yang kental dan siraman santan putih di atasnya.

Di bulan Ramadan, kolak biji salak mudah ditemukan di pasar takjil. Banyak pedagang menjualnya dalam keadaan hangat menjelang waktu berbuka. Aroma gula merah dan santan yang harum sering kali langsung menggugah selera.

Bagi banyak keluarga, kolak biji salak bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari kebersamaan. Proses membuatnya sering dilakukan bersama di dapur menjelang magrib. Ada yang membentuk bulatan ubi, ada yang menyiapkan kuahnya. Momen sederhana ini menghadirkan kehangatan tersendiri.

Selain lezat, kolak biji salak juga membantu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Ubi mengandung karbohidrat, gula merah memberi rasa manis alami, dan santan menambah rasa gurih serta membuat kenyang lebih lama.

Meski kini banyak takjil modern bermunculan, kolak biji salak tetap menjadi favorit. Rasanya yang sederhana justru menghadirkan kenangan dan rasa nyaman. Seiring perkembangan zaman, kolak biji salak juga mengalami berbagai inovasi. Ada yang menambahkan daun pandan untuk aroma yang lebih harum, ada pula yang menyajikannya dengan tambahan mutiara sagu atau potongan pisang.

Beberapa orang bahkan menyajikannya dalam keadaan dingin dengan tambahan es batu untuk sensasi yang lebih segar. Namun, versi tradisional dengan kuah hangat tetap menjadi favorit banyak orang. Selama Ramadhan masih dirayakan, kolak biji salak akan selalu menjadi bagian dari cerita berbuka puasa—sebagai simbol tradisi, kebersamaan, dan kehangatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....