Dikdaya Biak Numfor Pastikan 13 Siswa Korban diduga Ledakan Bom Tetap Bersekolah
- 02 Jun 2026 14:00 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Biak Numfor memastikan seluruh siswa yang terdampak ledakan yang terjadi di Kawasan Kompleks Perikanan, Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, pada Minggu 31 Mei 2026 siang,tetap mendapatkan hak pendidikan dan pendampingan pascabencana.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Biak Numfor, Kamaruddin,mengatakan, setelah lokasi kejadian dinyatakan aman oleh aparat keamanan, pihaknya langsung menurunkan tim untuk melakukan validasi data siswa terdampak.
“Begitu lokasi dinyatakan aman, kami menurunkan tim untuk memvalidasi data yang sebelumnya kami terima dari Dinas Sosial. Hasilnya, terdapat 13 siswa yang terdampak dengan usia dan jenjang pendidikan yang bervariasi, Yang paling kecil adalah siswa TK yang bersekolah di TK Hang Tuah, dan yang paling besar itu kelas 2 SMP yang bersekolah di SMP YPK Rut Yenures sisanya SD, antara kelas 1 sampai kelas 4,” ujar kamaruddin Selasa 2 Juni 2026
Menurutnya, dampak yang dialami para siswa cukup beragam. Satu siswa SD Inpres Fandoi dilaporkan meninggal dunia akibat ledakan tersebut. Selain itu, dua siswa lainnya kehilangan kedua orang tua dan menjadi yatim piatu, sementara beberapa siswa lain kehilangan salah satu orang tua atau mengalami luka-luka yang mengharuskan mereka menjalani perawatan medis.
Menyikapi kondisi tersebut, Dikdaya Biak Numfor mengumpulkan seluruh kepala sekolah yang memiliki siswa terdampak untuk memberikan sejumlah arahan dan langkah penanganan.
“Kami meminta seluruh kepala sekolah terus melakukan tracing atau pemantauan terhadap anak-anak ini. Jangan sampai ada yang putus sekolah. Khusus anak-anak yang menjadi yatim piatu harus terus dipantau keberadaannya, apakah ikut keluarga dari pihak ayah atau ibu, sehingga pendidikan mereka tetap terjamin,” ujarnya.
Selain itu, Kadis Kamaruddin juga meminta sekolah memberikan kebijakan khusus terkait pelaksanaan ujian sekolah. Siswa yang masih mengalami trauma tidak akan dipaksa mengikuti ujian.
“Kalau memungkinkan mereka mengikuti ujian susulan silakan. Namun apabila masih mengalami trauma, jangan dipaksakan. Nilai akhir dapat menggunakan hasil ulangan harian yang sudah dimiliki,” jelasnya.
Untuk membantu pemulihan psikologis para korban, pihaknya juga menginstruksikan sekolah melaksanakan trauma healing dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia serta berkoordinasi dengan lembaga terkait guna menghadirkan tenaga psikolog maupun psikiater.
Tidak hanya itu, seluruh biaya pendidikan bagi siswa terdampak akan dibebaskan hingga mereka menyelesaikan pendidikan. Sekolah juga diminta membantu kebutuhan seragam, sementara Dikdaya akan memberikan dukungan berupa perlengkapan belajar.
“Kami ingin memastikan seluruh 13 anak yang terdampak ledakan ini tetap bersekolah, mendapatkan pendampingan, dan perlahan dapat pulih dari trauma yang mereka alami,” ucapnya
Untuk diketahui, ledakan dahsyat terjadi pada Minggu 31 Mei 2026 sekitar pukul 14.45 Wit di areal pemukiman padat penduduk di kompleks perikanan Jalan Wolter Monginsidi Distrik Biak Kota Kabupaten Biak Numfor, ledakan diduga berasal dari bom Peninggalan Perang Dunia II yang mengakibatkan 5 orang meninggal dunia dan 3 korban yang belum ditemukan.
Hingga berita ini diturunkan, terdata sebanyak 19 orang dilaporkan mengalami luka ringan,2 diantaranya masih dirawat di RSUD Biak
Akibat peristiwa tersebut juga terdata sebanyak 56 warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman, terdiri dari 13 balita dan 43 orang dewasa
Untuk kerusakan materiil atau bangunan akibat ledakan tersebut terdata sementara sebanyak 9 rumah mengalami kerusakan berat, 4 diantaranya hancur total, 3 bangunan lainnya mengalami rusak ringan termasuk 1 bangunan gereja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....