Fenomena Outfit Anti Catcalling

  • 22 Des 2025 19:39 WIB
  •  Biak

KBRN, Biak: Belakangan ini Media Sosial terutama TikTok di penuhi oleh tren yang tampaknya lucu tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh lebih serius. “Outfit anti catcalling”. Di banyak video viral, perempuan menunjukkan bagaimana mereka menyesuaikan pakaian sehari-hari memilih busana longgar, simpel, bahkan terlihat seperti gaya ibu-ibu.

Di padukan antara hijab bergo, baju daster, outer, dan celana tidur, dengan satu tujuan yang jelas yaitu mengurangi catcalling atau pelecehan verbal di ruang publik. Tren ini adalah refleksi nyata dari sebuah problem sosial yang makin mengakar di kehidupan sehari-hari, yaitu fenomena catcalling pelecehan verbal di ruang publik yang dialami terutama oleh perempuan.

Catcalling sejenis pelecehan verbal di mana komentar seksual atau siulan diarahkan kepada orang yang lewat bukan fenomena baru. Tetapi kenyataannya, bagi banyak perempuan, catcalling tidak hanya mengganggu atau membuat rasa tidak nyaman, ia menciptakan lingkungan publik yang tidak aman secara psikologis dan fisik.

Dalam konteks ini, tren outfit anti catcalling muncul sebagai respons adaptif perempuan mengubah gaya berpakaian mereka bukan karena keinginan fashion, tetapi sebagai strategi perlindungan diri dari komentar yang tidak diinginkan dan potensi intimidasi.

Sebuah survei internasional menemukan bahwa sekitar 77% perempuan di bawah Usia 34 tahun pernah mengalami catcalling di ruang umum, dan survei lain mencatat bahwa sekitar 80% responden pernah mengalami pelecehan verbal publik setidaknya sekali, dengan perempuan mengalami tiga kali lebih banyak dibanding laki-laki.

Dampak emosionalnya nyata, banyak perempuan melaporkan rasa tidak aman, takut, dan khawatir akan keselamatan mereka, bahkan ketika mereka tidak sedang mengenakan pakaian yang secara tradisional dianggap “menarik perhatian”.

Di TikTok, hashtag seperti #SubwayShirt #Outfitanticatcalling yang mengacu pada oversized top yang dipakai guna menetralisir perhatian pria yang tidak diinginkan telah menarik jutaan views. Banyak perempuan secara terbuka berbagi pengalaman mereka menyesuaikan outfit agar “kurang menarik perhatian” saat berada di transportasi umum atau atau di ruang publik.

Tren ini terdiri dari kaus longgar, kemeja besar, atau pakaian santai yang secara sadar bertujuan mengaburkan siluet tubuh. Menurut beberapa kreator konten, ini bukan hanya tentang estetika, tetapi tentang menghindari tatapan, komentar, dan siulan yang membuat takut.

Namun perlu digarisbawahi, masalahnya bukan pada pakaian yang dipilih perempuan. Tragedi sosial catcalling terjadi karena masih banyak individu terutama pria yang merasa berhak mengomentari tubuh perempuan tanpa diminta, atau menganggap komentar yang merendahkan sebagai bentuk pujian.

Menyalahkan pakaian korban hanya memperkuat budaya patriarki yang membiarkan perilaku semacam ini berlangsung begitu saja. Sebaliknya, tren outfit anti catcalling mestinya membuka ruang diskusi luas, bahwa solusi sejati bukan pada apa yang dipakai perempuan, melainkan pada bagaimana kita sebagai masyarakat mendidik, menghormati, dan menegakkan batasan interpersonal yang sehat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....