Risiko Penggunaan Bahan Makanan tidak memenuhi standar kesehatan.

  • 10 Sep 2026 13:38 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak-Seorang chef dari restoran berbintang Michelin di Korea Selatan menjadi sorotan setelah tersandung kasus hukum yang berkaitan dengan penggunaan semut sebagai topping hidangan sorbet. Penggunaan bahan yang tidak lazim tersebut disebut menjadi bagian dari konsep kuliner eksperimental yang ditawarkan restoran. Kasus ini menarik perhatian publik karena melibatkan koki dari restoran yang dikenal memiliki reputasi tinggi di dunia gastronomi.

Di kutip dari kumparan.com, Semut tersebut dilaporkan digunakan sebagai pelengkap sajian sorbet dalam sebuah menu yang disiapkan oleh sang chef. Dalam dunia kuliner modern, penggunaan serangga sebagai bahan makanan sebenarnya bukan hal baru dan telah diterapkan di sejumlah negara. Namun, penggunaan serangga sebagai bahan pangan tetap harus memenuhi ketentuan mengenai keamanan, kebersihan, serta izin penggunaan bahan makanan yang berlaku di wilayah setempat.

Persoalan kemudian muncul ketika penggunaan semut dalam hidangan tersebut diduga melanggar aturan yang berlaku. Aparat melakukan penyelidikan terhadap praktik penyajian makanan di restoran dan akhirnya membawa chef tersebut ke dalam proses hukum. Kasus ini pun berkembang menjadi perdebatan mengenai batas antara kreativitas dalam gastronomi dan kewajiban pelaku usaha untuk mematuhi regulasi keamanan pangan.

Restoran berbintang Michelin umumnya dikenal karena standar tinggi dalam pemilihan bahan, teknik memasak, dan penyajian makanan. Karena itu, kasus tersebut turut menjadi perhatian di kalangan pecinta kuliner. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa inovasi dalam dunia makanan tetap harus mempertimbangkan aspek kesehatan dan peraturan yang ditetapkan oleh otoritas setempat.

Kasus chef tersebut kini menjadi perbincangan publik di Korea Selatan dan dunia kuliner internasional. Di satu sisi, penggunaan bahan tidak biasa dapat menjadi bentuk kreativitas dan identitas sebuah restoran, tetapi di sisi lain, keamanan konsumen tetap menjadi prioritas. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa eksperimen gastronomi harus dilakukan dengan memperhatikan standar keamanan pangan dan ketentuan hukum yang berlaku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....