Semangkuk Pindang, Sejuta Pesan tentang Alam
- 20 Jul 2026 18:46 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Di jantung Sumatra Selatan, terhampar sebuah kisah rasa yang mengalir sejernih sungai-sungainya yaitu pindang. Lebih dari sekadar hidangan berkuah dengan perpaduan rasa pedas, asam, dan gurih yang khas, pindang merupakan cerminan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Melansir indonesiakaya.com, hidangan ini lahir dari kesegaran ikan air tawar yang dipadukan dengan kekayaan rempah-rempah khas bumi Sriwijaya, menjadikannya simbol kearifan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana.
Pada dasarnya, pindang adalah seni memasak dengan teknik merebus menggunakan kuah bening tanpa santan, sehingga kesegaran bahan utamanya tetap terasa. Beragam jenis ikan seperti baung, toman, gabus, patin, hingga ikan salai dapat digunakan, bahkan telur ikan sering menjadi pelengkap yang menambah cita rasa. Setiap suapan menghadirkan perpaduan rasa yang kaya sekaligus menggambarkan kesederhanaan teknik memasak yang diwariskan secara turun-temurun.
Keistimewaan pindang juga terletak pada bumbu-bumbunya yang menyimpan jejak sejarah panjang. Penggunaan kunyit diduga dipengaruhi oleh kedatangan bangsa India, sementara jahe dan lengkuas menjadi warisan interaksi budaya dengan India, Arab, dan Tionghoa. Dengan demikian, semangkuk pindang bukan hanya menyajikan kelezatan, tetapi juga merekam perjalanan pertemuan berbagai peradaban yang pernah singgah di Sumatra Selatan.
Sebagai makanan sehari-hari masyarakat Sumatra Selatan, pindang memiliki beragam variasi sesuai dengan kondisi lingkungan dan tradisi daerah. Pindang Palembang dikenal dengan kuah kuning berkat penggunaan kunyit yang dipadukan dengan nanas dan kemangi sehingga menghadirkan rasa segar, asam, gurih, dan sedikit manis. Sementara itu, Pindang Meranjat dari Kabupaten Ogan Ilir memiliki ciri khas bumbu yang ditumis terlebih dahulu bersama terasi bakar. Proses ini menghasilkan kuah berwarna merah pekat, sedikit berminyak, serta aroma rempah yang lebih kuat.
Keunikan lain hadir pada Pindang Pegagan yang berasal dari masyarakat suku Pegagan di Ogan Ilir. Berbeda dengan Pindang Meranjat, jenis ini tidak melalui proses penumisan sehingga kuahnya lebih ringan dan tidak menggunakan minyak goreng sama sekali. Sementara itu, Pindang Musi Rawas memiliki kuah kuning keemasan yang kaya rempah karena penggunaan kunyit, serai, daun salam, dan lengkuas dalam jumlah lebih banyak. Penambahan tomat ranti memberikan rasa asam alami sekaligus membuat tekstur kuah menjadi sedikit lebih kental.
Keberagaman cita rasa tersebut menjadikan pindang sebagai salah satu kekayaan kuliner yang layak dijelajahi. Setiap daerah di Sumatra Selatan menawarkan karakter yang berbeda, mulai dari pilihan ikan, komposisi rempah, hingga teknik pengolahannya. Bagi para pecinta kuliner, menikmati berbagai jenis pindang dari sejumlah wilayah di Sumatra Selatan merupakan pengalaman gastronomi yang memperlihatkan betapa kayanya tradisi kuliner daerah ini.
Namun, di balik kelezatannya, pindang kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ketersediaan ikan air tawar semakin bergantung pada budidaya patin, sementara ikan gabus, baung, dan toman semakin sulit ditemukan akibat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, masuknya spesies invasif, alih fungsi lahan, serta pencemaran sungai oleh limbah industri. Padahal, keberadaan pindang sebagai warisan gastronomi Sumatra Selatan bertumpu pada keseimbangan hubungan manusia dan alam. Ketika sungai dijaga kelestariannya, alam akan terus menyediakan sumber pangan yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....