Dari Tanah Sriwijaya untuk Nusantara, Manisnya Lapan Jam dan Maksuba
- 20 Mei 2026 15:34 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Palembang dikenal sebagai kota yang menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya populer dengan Jembatan Ampera dan pempek, kota ini juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang begitu khas, terutama aneka kudapan manisnya. Di antara banyak sajian legendaris, Kue Lapan Jam dan Maksuba menjadi dua nama yang paling melekat dalam budaya masyarakat Palembang hingga sekarang.
Kedua kue tersebut bukan sekadar makanan penutup, melainkan bagian dari warisan budaya yang diwariskan turun-temurun. Dilansir dari indonesiakaya.com, menurut cerita masyarakat setempat, Kue Lapan Jam dahulu identik dengan hidangan kaum bangsawan karena bahan-bahannya tergolong mewah pada zamannya, seperti telur, mentega, susu, dan vanila. Bahkan, untuk membuat satu loyang kue dibutuhkan puluhan butir telur, sesuatu yang dulu tidak mudah dijangkau masyarakat biasa.
| Baca juga: Indonesian Gourmet Festival Beijing |
Kelezatan Kue Lapan Jam lahir dari proses pembuatannya yang panjang dan penuh kesabaran. Sesuai namanya, kue ini harus dimasak selama delapan jam agar menghasilkan tekstur yang padat, lembut, dan legit. Jika prosesnya dipercepat, rasa dan bentuk kue tidak akan sempurna. Karena itu, kue ini sering dimaknai sebagai simbol kesabaran dan ketekunan dalam menjalani kehidupan.
Masyarakat Palembang juga mengenal filosofi menarik di balik angka delapan pada kue tersebut. Dalam sehari yang terdiri dari 24 jam, manusia diingatkan untuk membagi waktunya secara seimbang, yakni delapan jam bekerja, delapan jam beristirahat, dan delapan jam beribadah. Ada pula tafsiran lain yang mengaitkan angka delapan dengan jumlah orang yang akan memikul keranda saat seseorang meninggal dunia, sebagai pengingat bahwa hidup pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.
Selain Kue Lapan Jam, Maksuba juga menjadi sajian khas yang selalu hadir dalam berbagai momen penting masyarakat Palembang, terutama saat Lebaran. Sama seperti Lapan Jam, Maksuba dahulu dikenal sebagai kudapan kalangan elit Kesultanan Palembang. Kue ini dibuat dengan teknik berlapis yang membutuhkan ketelitian dan waktu panjang, sehingga dianggap sebagai simbol penghormatan bagi tamu yang datang berkunjung.
Dalam tradisi Palembang, Maksuba bahkan memiliki kaitan erat dengan adat pernikahan. Pada masa lalu, kemampuan membuat Maksuba sering dijadikan ukuran kesiapan seorang perempuan sebelum menikah. Calon mertua biasanya mengirimkan bahan-bahan mentah, lalu sang perempuan akan mengolahnya menjadi Maksuba sebagai bentuk balasan dan penghormatan. Proses pembuatannya yang rumit juga melambangkan kesabaran, ketelatenan, dan dedikasi dalam membangun rumah tangga.
Hingga kini, Kue Lapan Jam dan Maksuba tetap menjadi bagian penting dalam tradisi masyarakat Palembang. Kedua kue tersebut kerap hadir di meja saat hari raya, acara keluarga, hingga pernikahan adat. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Palembang, membawa pulang Lapan Jam dan Maksuba sebagai oleh-oleh rasanya menjadi pengalaman yang tak boleh dilewatkan. Apalagi jika disantap bersama secangkir teh atau kopi hangat, cita rasa khas dari tanah Sriwijaya terasa semakin lengkap.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....