GLP-1 Jadi Tren Menurunkan Berat Badan, Kenali Cara Kerja dan Risikonya

  • 22 Sep 2026 11:30 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Penggunaan obat golongan GLP-1 (glucagon-like peptide-1) receptor agonist semakin menjadi perhatian sebagai salah satu metode untuk membantu menurunkan berat badan. Obat seperti semaglutide dan tirzepatide bekerja pada sistem hormon yang berkaitan dengan nafsu makan dan rasa kenyang. Popularitasnya meningkat seiring banyaknya pembahasan mengenai obat penurun berat badan di media sosial.

Mengutip Halodoc, GLP-1 pada dasarnya bukan sekadar tren diet, melainkan obat yang digunakan untuk kondisi medis tertentu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa obat GLP-1 dapat digunakan untuk membantu menangani obesitas pada orang dewasa dalam kondisi tertentu. Di Amerika Serikat, misalnya, tirzepatide telah disetujui untuk manajemen berat badan kronis pada orang dewasa dengan obesitas atau kelebihan berat badan yang memiliki setidaknya satu kondisi terkait berat badan.

Cara kerja obat ini antara lain dengan membantu mengurangi nafsu makan dan asupan makanan sehingga dapat mendukung penurunan berat badan ketika digunakan sesuai indikasi medis. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya penurunan berat badan yang bermakna pada sejumlah obat dalam kelompok ini. Namun, penggunaannya tetap perlu disertai pengaturan pola makan dan aktivitas fisik sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.

Meski memberikan manfaat bagi pasien yang memenuhi indikasi, GLP-1 bukan obat yang bebas digunakan tanpa pengawasan. Efek samping yang dapat muncul antara lain mual, muntah, diare, sembelit, serta nyeri atau ketidaknyamanan pada perut. FDA juga mencantumkan sejumlah risiko serius yang perlu diperhatikan pada obat tertentu dalam kelompok ini.

Meningkatnya popularitas GLP-1 juga memunculkan kekhawatiran mengenai penggunaan tanpa resep dan pembelian melalui sumber yang tidak terjamin. WHO menyoroti meningkatnya penggunaan obat tersebut di luar indikasi dan lingkungan medis, sementara FDA memperingatkan risiko produk GLP-1 yang tidak disetujui, termasuk masalah kualitas dan kesalahan dosis. Karena itu, GLP-1 sebaiknya dipandang sebagai terapi medis, bukan sekadar tren penurunan berat badan, dan penggunaannya perlu berdasarkan penilaian serta pengawasan tenaga kesehatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....