Sama-Sama Ditularkan Nyamuk, Ini Beda Demam Berdarah dan Zika

  • 23 Agt 2026 17:22 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID,Biak - Demam berdarah dan Zika sama-sama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes dan dapat menimbulkan gejala yang sekilas mirip, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri tubuh. Namun, keduanya memiliki karakteristik gejala serta risiko komplikasi yang berbeda. Lantas, bagaimana cara membedakan demam berdarah dan Zika, dan kapan kondisi tersebut perlu diwaspadai? Kenali perbedaan gejala dan risikonya agar dapat mengambil langkah penanganan yang tepat.

Mengutip Idntimes.com, DBD dan Zika sama-sama termasuk kelompok flavivirus dan terutama ditularkan oleh Aedes aegypti, meskipun Aedes albopictus juga dapat berperan. Karena gejalanya tumpang tindih, membedakan keduanya hanya berdasarkan apa yang dirasakan pasien tidak selalu mudah.

Ada satu istilah yang juga perlu diluruskan. Dengue adalah nama penyakitnya, dengan spektrum dari tanpa gejala hingga berat. Istilah demam berdarah dengue (DBD) masih sangat lazim digunakan, tetapi klasifikasi WHO saat ini membaginya menjadi dengue dengan atau tanpa tanda peringatan serta severe dengue atau dengue berat yang harus segera ditangani di rumah sakit.

Dengue biasanya terasa lebih berat

Ketika menimbulkan gejala, dengue umumnya muncul sekitar 4–10 hari setelah infeksi. Keluhannya dapat berupa demam tinggi hingga sekitar 40 derajat Celsius, sakit kepala berat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam.

Zika biasanya menimbulkan penyakit yang lebih ringan. Sebagian besar orang yang terinfeksi bahkan tidak mengalami gejala. Jika muncul, keluhan biasanya berupa demam yang relatif ringan, ruam, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, serta konjungtivitis atau mata merah, dan berlangsung sekitar 2–7 hari.

Studi di Singapura yang membandingkan pasien dengan Zika dan dengue terkonfirmasi menemukan bahwa demam, sakit kepala, dan nyeri otot lebih menonjol pada dengue, sedangkan konjungtivitis jauh lebih kuat berkaitan dengan Zika.

Penelitian prospektif di Meksiko juga menemukan dengue cenderung menyebabkan penyakit yang lebih simptomatik dan mengganggu aktivitas, sedangkan Zika lebih sering dikaitkan dengan gejala pada mata serta ruam makular yang lebih terlokalisasi.

Namun, pola tersebut bukan alat diagnosis mutlak. Orang dengan dengue bisa mengalami ruam dan mata merah, sementara orang dengan Zika juga dapat demam dan nyeri tubuh.

Trombosit turun lebih khas pada dengue

Salam studi Singapura, pasien dengue memiliki median trombosit sekitar 132 × 10⁹/L, sedangkan pasien Zika sekitar 225 × 10⁹/L. Kombinasi konjungtivitis dengan jumlah trombosit dan monosit yang normal mampu membedakan Zika dan dengue dengan akurasi sekitar 92 persen dalam kelompok penelitian tersebut.

Studi di Meksiko juga menemukan trombositopenia atau penurunan trombosit dan gangguan tes fungsi hati lebih sering ditemukan pada dengue. Bahkan, penurunan trombosit pada sebagian pasien masih terlihat sampai hari ke-28.

Meski demikian, trombosit normal tidak otomatis berarti seseorang tidak mengalami dengue, dan trombosit rendah juga memiliki banyak penyebab lain. Pemeriksaan tetap perlu ditafsirkan bersama perjalanan penyakit dan tes laboratorium yang sesuai.

Perbedaan komplikasi

Dengue memiliki risiko berkembang menjadi dengue berat, yang justru dapat muncul ketika demam mulai turun.

Tanda peringatannya meliputi nyeri perut berat, muntah terus-menerus, perdarahan gusi atau hidung, lemas atau gelisah, napas cepat, darah dalam muntahan atau tinja, kulit pucat dan dingin, serta rasa haus berlebihan.

Dengue berat dapat menyebabkan kebocoran plasma hingga syok, perdarahan berat, atau kerusakan organ.

Zika jarang menyebabkan kondisi akut seberat itu pada kebanyakan orang. Namun, komplikasinya berbeda dan bisa sangat serius.

Infeksi Zika selama kehamilan dapat menular dari ibu ke janin dan menjadi penyebab sindrom Zika kongenital, termasuk mikrosefali dan kelainan perkembangan otak, mata, pendengaran, serta anggota gerak.

Zika juga berkaitan dengan keguguran, lahir mati, dan kelahiran prematur. Pada orang dewasa maupun anak, infeksi ini juga dapat memicu komplikasi neurologis seperti sindrom Guillain-Barré.

Berbeda dari dengue, Zika juga dapat ditularkan melalui hubungan seksual, selain dari ibu ke janin selama kehamilan.

Jangan cuma mengandalkan gejala

Karena kedua penyakit mirip, dokter dapat membutuhkan tes laboratorium untuk memastikan diagnosis.

Zika dapat dikonfirmasi melalui pemeriksaan RNA virus dengan RT-PCR atau pemeriksaan antibodi. Namun, karena Zika dan dengue masih satu keluarga virus, tes antibodi dapat mengalami reaksi silang, sehingga interpretasinya terkadang rumit.

Tidak ada obat antivirus spesifik untuk dengue maupun Zika. Penanganan umumnya meliputi istirahat, cukup cairan, serta obat untuk meredakan demam dan nyeri.

Jangan menggunakan aspirin atau obat antiinflamasi nonsteroid seperti ibuprofen ketika dengue belum dapat dikonfirmasi, karena obat tersebut dapat meningkatkan risiko perdarahan pada dengue.

WHO juga menganjurkan pasien yang diduga Zika tetapi belum dapat dipastikan bukan dengue untuk sementara ditangani mengikuti prinsip penanganan dengue.

Jadi, mata merah dan penyakit yang relatif ringan memang lebih mengarah ke Zika, sedangkan demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri tubuh, dan trombosit turun lebih khas pada dengue. Namun, perbedaan gejala tidak cukup untuk memastikan diagnosis, terutama bagi ibu hamil atau jika muncul tanda peringatan dengue berat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....