Mengenal FOMO, Kecemasan Sosial di Balik Layar Ponsel
- 21 Agt 2026 19:26 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak – Di tengah gemerlapnya dunia media sosial, ada satu perasaan yang mungkin sering muncul tanpa disadari, yaitu kekhawatiran akan tertinggal sesuatu. Melihat teman-teman berlibur ke tempat eksotis, menghadiri acara seru, atau sekadar merayakan momen kebersamaan, tanpa sadar dapat memunculkan perasaan cemas dan gelisah karena merasa diri sendiri tidak turut menjadi bagian dari momen tersebut. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah fear of missing out (FOMO), sebuah bentuk kecemasan sosial yang kian marak terjadi seiring meningkatnya intensitas penggunaan ponsel dan media sosial. Di balik layar yang tampak biasa saja, tersimpan tekanan psikologis yang tanpa disadari dapat memengaruhi suasana hati, rasa percaya diri, bahkan kesejahteraan mental seseorang.
Dilansir dari Halodoc, FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan cemas atau tidak nyaman yang muncul ketika seseorang merasa orang lain mendapatkan pengalaman berharga sementara dirinya tidak ikut serta di dalamnya. Fenomena ini pertama kali diidentifikasi secara luas pada awal tahun 2000-an dan semakin menguat seiring dengan populernya platform seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter). Penyebab utama FOMO bukanlah media sosial itu sendiri, melainkan kebutuhan dasar manusia akan koneksi sosial (social belonging). Secara psikologis, manusia memiliki insting untuk menjadi bagian dari kelompok. Ketika kita merasa “dikeluarkan” atau tidak tahu apa yang sedang terjadi di kelompok kita, otak mengirimkan sinyal bahaya yang memicu stres. Media sosial memperburuk hal ini dengan menyajikan arus informasi tanpa henti tentang apa yang dilakukan orang lain setiap detiknya.
FOMO (Fear of Missing Out) ditandai dengan kebiasaan mengecek gadget secara impulsif, menjadikan media sosial sebagai prioritas dibanding interaksi langsung, terobsesi membandingkan hidup dengan unggahan orang lain, sulit menolak ajakan keluar karena takut ketinggalan momen, serta muncul rasa cemas saat tidak memegang ponsel atau kehilangan sinyal. Untuk mengurangi dampaknya, disarankan membatasi penggunaan media sosial maksimal 30-60 menit per hari, mematikan notifikasi yang tidak mendesak, dan memperbanyak aktivitas fisik tanpa gadget seperti olahraga atau berkebun.
FOMO sebagai pengingat bahwa kehidupan yang ditampilkan di media sosial hanyalah potongan kecil dari realitas yang jauh lebih kompleks. Menjaga kesehatan mental di era keterhubungan tanpa batas bukan berarti menjauh sepenuhnya dari teknologi, melainkan belajar menggunakannya secara lebih bijak agar hidup tetap terasa bermakna, bukan sekadar mengejar apa yang tampak seru di layar orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....