Mana Lebih Menyehatkan, Telur Ceplok atau Telur Dadar?
- 22 Jul 2026 17:06 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Telur ceplok dan telur dadar menjadi dua menu sarapan favorit masyarakat karena praktis, lezat, dan mudah diolah. Selain rasanya yang disukai banyak orang, telur juga dikenal sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang mengandung lemak sehat, vitamin, serta mineral penting. Kandungan gizi tersebut membantu memenuhi kebutuhan energi tubuh sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama setelah memulai aktivitas di pagi hari.
Meski sama-sama berasal dari telur yang digoreng, ternyata terdapat perbedaan nilai gizi antara telur ceplok dan telur dadar. Mengutip situs IPB University, Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa secara umum kedua olahan tersebut memiliki kandungan gizi yang hampir sama. Namun, perbedaan muncul dari cara pengolahan, terutama jumlah minyak dan bahan tambahan yang digunakan saat memasak.
Telur dadar umumnya memiliki kandungan kalori dan lemak yang lebih tinggi dibandingkan telur ceplok karena lebih banyak menyerap minyak selama proses penggorengan. Nilai kalorinya juga dapat meningkat apabila ditambahkan bahan lain, seperti keju, tepung, sosis, atau daging cincang. Oleh karena itu, cara memasak menjadi faktor penting yang menentukan nilai gizi dari hidangan telur.
Dijelaskan juga bahwa proses memasak justru memberikan manfaat terhadap kualitas protein telur. Telur yang dimasak memiliki tingkat kecernaan dan penyerapan protein yang mencapai sekitar 91 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan telur mentah yang hanya sekitar 51 persen. Meski demikian, proses memasak sebaiknya dilakukan pada suhu sekitar 60–80 derajat Celsius. Memasak telur pada suhu yang terlalu tinggi, yakni di atas 150–160 derajat Celsius, berpotensi merusak sebagian asam amino sehingga kualitas gizinya dapat menurun.
Bagi masyarakat yang sedang menjalani program diet atau menjaga berat badan, Dr. Karina menyarankan metode memasak tanpa minyak, seperti merebus, mengukus, atau membuat poached egg. Namun, jika ingin menikmati telur ceplok maupun telur dadar, keduanya tetap dapat menjadi pilihan selama penggunaan minyak dibatasi. Penggunaan wajan antilengket atau minyak semprot dapat menjadi alternatif untuk mengurangi asupan lemak tanpa mengurangi cita rasa.
Selain itu, dirinya juga meluruskan anggapan bahwa konsumsi kuning telur selalu menyebabkan peningkatan kolesterol dan risiko penyakit jantung. Berdasarkan berbagai penelitian terbaru, konsumsi telur tidak terbukti secara langsung meningkatkan risiko penyakit jantung. Peningkatan kadar kolesterol darah justru lebih dipengaruhi oleh pola makan yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans. Karena itu, masyarakat tidak perlu ragu mengonsumsi telur sebagai bagian dari menu bergizi seimbang, asalkan diolah dengan cara yang tepat dan dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....