Lamtoro, Antiparasit Manusia yang Tersembunyi Pakan Ternak

  • 08 Jul 2026 11:15 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID Biak- Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, lamtoro (Leucaena leucocephala) lebih dikenal sebagai tanaman pakan ternak atau pelengkap masakan tradisional. Daunnya kerap diberikan kepada kambing dan sapi karena kandungan proteinnya yang tinggi, sementara bijinya sering diolah menjadi lalapan atau campuran sambal. Namun, di balik manfaat tersebut, lamtoro ternyata menyimpan potensi lain yang mulai mendapat perhatian para peneliti, yaitu sebagai sumber senyawa antiparasit alami.

Di kutip dari kumparan.com, selama bertahun-tahun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bagian kulit batang, daun, hingga biji lamtoro mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, tanin, saponin, dan alkaloid. Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki aktivitas biologis yang beragam, mulai dari antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, hingga berpotensi menghambat perkembangan organisme parasit.

Potensi Sebagai Antelmintik Alami

Salah satu potensi yang paling menarik adalah kemampuannya sebagai antelmintik, yaitu zat yang digunakan untuk membunuh atau melumpuhkan cacing parasit. Dalam penelitian laboratorium, ekstrak etanol kulit batang lamtoro terbukti memiliki aktivitas vermisidal terhadap cacing tanah (Pheretima posthuma), organisme yang umum digunakan sebagai model penelitian untuk menguji efektivitas obat cacing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak mempercepat kematian cacing uji, mengindikasikan adanya aktivitas antiparasit dari senyawa yang terkandung di dalam tanaman tersebut.

Para peneliti menduga aktivitas tersebut dipengaruhi oleh kandungan tanin dan saponin. Tanin dapat mengganggu metabolisme serta struktur protein pada tubuh cacing, sedangkan saponin mampu merusak membran sel sehingga menyebabkan kelumpuhan hingga kematian parasit.

Masih Dalam Tahap Penelitian

Meski hasil penelitian laboratorium cukup menjanjikan, bukan berarti lamtoro sudah dapat digunakan sebagai obat cacing untuk manusia. Sebagian besar penelitian yang tersedia masih dilakukan secara in vitro atau menggunakan hewan percobaan. Hingga saat ini belum terdapat bukti klinis yang cukup untuk memastikan keamanan dan efektivitas ekstrak lamtoro sebagai terapi antiparasit pada manusia.

Karena itu, para ahli menekankan perlunya penelitian lanjutan, termasuk uji toksisitas, penentuan dosis yang aman, serta uji klinis sebelum tanaman ini dapat dikembangkan menjadi produk obat herbal.

Tidak Lepas dari Risiko

Lamtoro juga memiliki kandungan mimosin, yaitu asam amino nonprotein yang bersifat toksik apabila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Pada ternak, senyawa ini dapat mengganggu pertumbuhan, menyebabkan kerontokan bulu, hingga memengaruhi fungsi tiroid apabila tidak dinetralkan oleh mikroorganisme tertentu di dalam rumen. Oleh sebab itu, penggunaan lamtoro sebagai bahan obat harus melalui proses pengolahan dan standarisasi yang tepat untuk mengurangi risiko efek samping.

Lebih dari Sekadar Pakan Ternak

Selain aktivitas antiparasit, penelitian lain juga menunjukkan bahwa lamtoro memiliki berbagai potensi farmakologis, seperti aktivitas analgesik, penyembuhan luka, mukolitik, hingga antidiare. Beberapa penelitian juga mengevaluasi aktivitas antibakteri dan antijamurnya, meskipun hasilnya masih bervariasi tergantung bagian tanaman, metode ekstraksi, dan jenis mikroorganisme yang diuji.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang selama ini dianggap biasa ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber senyawa obat alami. Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia, lamtoro menjadi salah satu contoh bagaimana tanaman lokal dapat berkontribusi dalam pengembangan fitofarmaka di masa depan.

Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan ekstrak lamtoro sebagai pengobatan mandiri terhadap infeksi cacing atau penyakit lainnya tanpa pendampingan tenaga kesehatan. Penelitian masih terus berlangsung untuk memastikan manfaat, dosis, serta keamanan penggunaannya bagi manusia. Potensi yang dimiliki memang menjanjikan, tetapi pembuktian ilmiah yang kuat tetap menjadi syarat utama sebelum lamtoro dapat dimanfaatkan sebagai obat modern.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....