Konsumsi Jengkol Berlebihan Picu Jengkolan, Kenali Gejala dan Penanganannya

  • 26 Mei 2026 23:13 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak – Jengkol (Archidendron pauciflorum) adalah tanaman polong-polongan khas Asia Tenggara yang buahnya telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Meski dikenal dengan aromanya yang menyengat akibat kandungan asam jengkolat, buah ini justru memiliki penggemar setia dari berbagai kalangan. Teksturnya yang kenyal dan cita rasanya yang khas menjadikan jengkol bahan istimewa dalam berbagai hidangan, mulai dari semur jengkol, rendang, hingga jengkol balado.

Namun di balik kelezatannya, konsumsi jengkol yang berlebihan dapat menimbulkan efek samping yang tidak bisa dianggap sepele. Kandungan asam jengkolat (jengkolic acid) yang terdapat dalam biji jengkol berpotensi membentuk kristal tajam di dalam saluran kemih apabila dikonsumsi dalam jumlah besar, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan air yang cukup. Kondisi ini dikenal sebagai jengkolan atau keracunan jengkol.

Dikutip dari Halodoc, Jengkolan adalah istilah medis yang merujuk pada kondisi keracunan asam jengkolat atau dikenal secara ilmiah sebagai djenkolism. Kondisi ini terjadi akibat konsumsi biji jengkol (Archidendron pauciflorum) secara berlebihan atau pada individu yang memiliki kerentanan tinggi terhadap zat tersebut. Gangguan ini menyerang sistem perkemihan dan dapat memicu kerusakan fungsi ginjal jika tidak segera ditangani dengan prosedur medis yang tepat.

Asam jengkolat merupakan senyawa asam amino non-protein yang mengandung sulfur. Zat ini secara alami terdapat dalam biji jengkol dengan kadar yang bervariasi tergantung pada jenis, usia, dan asal daerah pertumbuhan pohon jengkol tersebut. Dalam lingkungan yang asam, seperti pada saluran kemih manusia, asam jengkolat cenderung sulit larut dan mudah membentuk kristal-kristal tajam berukuran mikroskopis yang dapat merusak jaringan lunak.

Masalah utama muncul ketika kristal asam jengkolat menyumbat tubulus ginjal, ureter, atau uretra. Penimbunan kristal ini memicu peradangan hebat dan sumbu hambatan mekanis yang mengganggu proses pengeluaran urin dari tubuh. Oleh karena itu, jengkolan adalah masalah kesehatan serius yang membutuhkan perhatian mendalam guna menghindari komplikasi gagal ginjal akut yang membahayakan nyawa.

Penanganan Medis dan Pengobatan Jengkolan

Langkah penanganan jengkolan sangat bergantung pada tingkat keparahan gejala yang dialami oleh penderita. Pada kasus yang tergolong ringan, penderita disarankan untuk meningkatkan asupan air putih secara masif. Minum air dalam jumlah banyak bertujuan untuk melarutkan kristal asam jengkolat yang terbentuk dan mendorongnya keluar secara alami melalui sistem ekskresi tanpa menyebabkan luka lebih lanjut.

Jika penderita mengalami nyeri yang sangat mengganggu atau timbul demam akibat peradangan pada saluran kemih, pemberian obat-obatan analgesik dan antipiretik bisa menjadi pertimbangan dokter. Produk ini mengandung paracetamol yang bekerja efektif menurunkan suhu tubuh dan mengurangi rasa sakit, namun penggunaannya pada kasus jengkolan harus tetap di bawah pengawasan tenaga medis guna memastikan keamanan bagi fungsi ginjal yang sedang terganggu.

Untuk kasus jengkolan kategori berat dengan gejala tidak bisa buang air kecil sama sekali, penderita wajib segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Penanganan medis profesional mencakup rehidrasi agresif melalui cairan infus dan pemberian agen pembasa urin seperti natrium bikarbonat. Pemberian zat basa bertujuan untuk menetralkan asam jengkolat agar kembali larut dalam urin sehingga kristal dapat luruh dan fungsi ginjal kembali normal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....