Slow Living dan Soft Living, Menata Ritme Hidup demi Kesehatan Mental

  • 26 Mei 2026 09:45 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak – Ritme hidup yang serba cepat kerap membuat banyak orang terjebak dalam tekanan aktivitas tanpa jeda. Kondisi ini mendorong munculnya kesadaran baru untuk menjalani hidup lebih tenang melalui konsep slow living dan soft living.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Slow living mengajak seseorang menata ulang cara menjalani hari dengan lebih teratur, tidak tergesa-gesa, dan memberi ruang untuk menikmati proses. Sementara soft living menekankan pentingnya kenyamanan emosional melalui kebiasaan sederhana yang menghadirkan rasa tenang dalam keseharian.

Pendekatan ini tidak sekadar tren gaya hidup, melainkan selaras dengan kajian psikologi tentang pentingnya keseimbangan antara tuntutan hidup dan waktu pribadi.

Menurut artikel yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan yang diterbitkan Fakultas Psikologi University of Muhammadiyah Malang, kesejahteraan psikologis sangat dipengaruhi oleh kemampuan individu mengelola stres serta menciptakan keseimbangan hidup.

Temuan tersebut menegaskan bahwa kebiasaan memberi jeda istirahat, mengurangi tekanan pada diri sendiri, dan mengatur ritme aktivitas harian merupakan bagian penting dalam menjaga stabilitas mental.

Sejalan dengan itu, penelitian dalam Insan Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental menyebutkan bahwa tekanan hidup modern yang tidak diimbangi dengan pengelolaan emosi dapat berdampak pada penurunan kondisi psikologis seseorang.

Dengan menerapkan slow living dan soft living, masyarakat dapat membangun kualitas hidup yang lebih sehat, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara mental, di tengah tuntutan zaman yang terus bergerak cepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....