Kenapa Nasi Selalu Jadi Tolak Ukur Rasa Kenyang?

  • 19 Mei 2026 15:32 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Meski seseorang sudah menyantap roti, mi, atau kentang, banyak yang tetap merasa perut belum benar-benar kenyang jika belum menyentuh sepiring nasi. Kalimat ini menunjukkan betapa kuatnya posisi nasi sebagai makanan pokok dalam budaya Indonesia.

Dilansir dari Halodoc, Sejak lama nasi bukan sekadar sumber karbohidrat, tetapi juga bagian dari kebiasaan dan identitas. Hampir setiap hidangan utama selalu disajikan bersama nasi, sehingga muncul anggapan bahwa makan tanpa nasi terasa kurang lengkap. Kebiasaan ini diwariskan dari generasi ke generasi dan membentuk pola pikir bahwa nasi adalah simbol dari “makan yang sesungguhnya”.

Secara gizi, tubuh sebenarnya dapat memperoleh energi dari berbagai sumber karbohidrat lain seperti singkong, jagung, ubi, dan kentang. Artinya, kenyang tidak selalu harus berasal dari nasi. Namun, faktor budaya dan kebiasaan membuat nasi tetap menjadi pilihan utama bagi banyak orang.

Ungkapan ini menunjukkan bahwa makanan tidak hanya soal nutrisi, tetapi juga tentang tradisi dan rasa familiar. Di balik sepiring nasi, tersimpan nilai budaya yang telah melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....