Kasus DBD di Biak Numfor Meningkat, Dinkes Ajak Warga Waspada

  • 30 Apr 2026 14:00 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak – Dinas Kesehatan Kabupaten Biak Numfor mencatat adanya peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awal tahun 2026. Hingga saat ini, tercatat 27 kasus, bahkan laporan terbaru menyebutkan bertambah menjadi 28 kasus yang masih dalam proses verifikasi. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Biak Numfor, Daud Nataniel Duwiri, kepada RRI, Kamis 30 April 2026.

Daud Nataniel Duwiri mengatakan bahwa penanganan kasus kesehatan mengacu pada regulasi nasional yang berlaku. Regulasi tersebut menjadi dasar dalam menangani berbagai kasus kesehatan di masyarakat.

“Di daerah maupun di pusat ya kami mengacu kepada undang-undang nomor 17 tahun 2023 tentang pelayanan kesehatan. Itu diatur semua bagaimana pelayanan kesehatan yang ada di seluruh Indonesia,sehingga ini kita berharap dasar-dasar hukum ini kita gunakan untuk bagaimana menangani masalah-masalah kasus yang terjadi di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya

Ia menjelaskan, tren kasus DBD sempat meningkat signifikan pada 2024 dengan 97 kasus, kemudian menurun menjadi 9 kasus di tahun 2025. Namun, pada 2026 kembali mengalami peningkatan.

“Dengan rincian di Puskesmas Sumberker ada 15 kasus, Puskesmas Biakota ada 6 kasus, Puskesmas Ritz ada 4 kasus, Puskesmas Parai 1 kasus, dan Puskesmas Korem 1 kasus,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penyebaran DBD kini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan, tetapi sudah menjangkau kampung-kampung.. Untuk itu, masyarakat hingga peran pemerintahan kampung, guna meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan melalui gerakan 3M serta mengimbau warga segera memeriksakan diri jika mengalami gejala demam.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Sumberker Maria Desyline menjelaskan bahwa setiap puskesmas telah dilengkapi fasilitas pemeriksaan untuk mendeteksi DBD sejak dini. Ia menambahkan, gejala DBD seringkali mirip dengan malaria sehingga masyarakat perlu waspada. Menurutnya, penanganan awal DBD berfokus pada pemenuhan cairan tubuh.

“Gejalanya mirip-mirip dengan malaria, sehingga terkadang masyarakat juga terkecoh. Terapi yang pertama biasanya adalah penambahan cairan, baik lewat minum atau cairan infus jika diperlukan,” ujarnya

Salah satu warga kelurahan Anjereuw, Syeni, menceritakan pengalaman anaknya berusia yang terjangkit DBD di usia 14 tahun. Gejala awal berupa demam tinggi yang tidak kunjung turun selama beberapa hari. Ia mengaku sempat mengira penyakit tersebut adalah malaria, sebelum akhirnya dipastikan sebagai DBD setelah pemeriksaan lanjutan

“Dia mulai kena panas, badannya panas tidak turun-turun, terus sakit kepala,kalau tidak ada malaria, berarti kemungkinan dua, DBD atau tipes, selang empat hari berjalan, panasnya pun tidak turun-turun akhirnya dibawa ke rumah sakit, di situ baru dipasang infus,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan.

Dengan meningkatnya kasus DBD ini, diharapkan adanya peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala, guna menekan penyebaran penyakit di Kabupaten Biak Numfor.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....