Bekerja tanpa Batas, Dampak Overwork bagi Tubuh dan Pikiran
- 28 Apr 2026 06:28 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Fenomena pekerja yang mengalami overwork atau bekerja melebihi batas waktu wajar masih banyak terjadi di Indonesia. Tidak sedikit pekerja yang harus bekerja lebih dari 9–10 jam setiap hari, bahkan hingga akhir pekan. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap kesehatan fisik maupun mental.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar seperempat pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 48 jam per minggu. Angka ini melampaui ketentuan jam kerja normal yang ditetapkan, yakni maksimal 40 jam per minggu. Jam kerja berlebih tersebut banyak ditemukan di sektor informal, jasa, hingga industri dengan tuntutan target tinggi.
Menurut pakar kesehatan, kebiasaan bekerja berlebihan dalam jangka panjang dapat memicu berbagai gangguan serius. Salah satunya adalah meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke. Minimnya waktu istirahat membuat tubuh tidak memiliki kesempatan untuk pulih secara optimal. “Saat stres berlangsung terus-menerus, hormon seperti kortisol dan adrenalin akan memberi beban pada sistem kardiovaskular,” ujar dr. Danielle Qing, dokter penyakit dalam dari Mount Sinai, seperti dikutip dari New York Post.
Dampak overwork tidak hanya dirasakan pada jantung, tetapi juga pada fungsi tubuh lainnya. Gangguan tidur dan kelelahan berkepanjangan kerap terjadi karena tubuh kesulitan beristirahat setelah jam kerja panjang. Stres juga dapat mengganggu sistem pencernaan, menimbulkan keluhan seperti perut tidak nyaman, kembung, hingga masalah usus. Selain itu, daya tahan tubuh dapat menurun sehingga lebih mudah terserang penyakit. Keluhan pada otot dan sendi, seperti nyeri leher dan punggung, juga sering muncul akibat posisi kerja yang kurang ergonomis.
Para ahli menggambarkan tubuh manusia memiliki kapasitas energi yang terbatas. Jika terus dipaksa bekerja tanpa waktu pemulihan yang cukup, kemampuan fisik dan mental akan menurun, sementara risiko gangguan kesehatan meningkat. Kondisi ini diibaratkan seperti mesin yang terus dipaksa bekerja tanpa perawatan, sehingga lebih rentan mengalami kerusakan.
Selain berdampak pada fisik, overwork juga memengaruhi kesehatan mental. Pekerja dengan jam kerja berlebih rentan mengalami stres kronis, kelelahan ekstrem, hingga burnout. Gejalanya antara lain gangguan tidur, menurunnya konsentrasi, mudah tersinggung, hingga penurunan produktivitas.
Risiko lain yang tidak kalah penting adalah meningkatnya potensi kecelakaan kerja, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi atau aktivitas fisik. Kelelahan dapat memperlambat refleks dan pengambilan keputusan, sehingga membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Para ahli menilai bahwa fenomena overwork tidak lepas dari tekanan ekonomi dan tuntutan pekerjaan. Banyak pekerja terpaksa menambah jam kerja atau mengambil pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di sisi lain, budaya kerja yang menganggap jam kerja panjang sebagai bentuk loyalitas juga masih cukup kuat di beberapa sektor.
Pekerja disarankan untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kelelahan, seperti rasa lelah yang berkepanjangan, gangguan tidur, menurunnya daya tahan tubuh, hingga hilangnya motivasi kerja. Jika upaya membatasi jam kerja dan menjaga kesehatan belum membuahkan hasil, mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor menjadi langkah yang dianjurkan.
Secara umum, bekerja lebih lama dalam situasi tertentu masih dapat dimaklumi. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan fisik dan mental pekerja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....