Waspada GERD, Tak Sekadar Gangguan Lambung tapi juga Dipicu Stres
- 19 Apr 2026 18:26 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Rasa panas dan perih di ulu hati kerap dianggap sebagai gangguan lambung biasa. Padahal, kondisi yang dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) bisa jauh lebih serius dan berkaitan erat dengan kondisi psikologis, seperti kecemasan dan tekanan hidup sehari-hari.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, GERD terjadi ketika isi lambung mengalir kembali ke esofagus sehingga memicu gejala seperti mulas dan rasa asam di mulut. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi komplikasi berbahaya, mulai dari kerusakan lapisan kerongkongan hingga kanker esofagus.
Kementerian Kesehatan juga menyebutkan, hubungan antara GERD dan kecemasan bersifat dua arah. Gangguan fisik seperti GERD dapat memengaruhi kondisi jiwa, sementara kecemasan yang tidak tertangani dapat memicu atau memperburuk GERD. Stres dan emosi yang tidak terkelola dengan baik turut memengaruhi fungsi saluran pencernaan. Namun, hanya sebagian kecil penderita yang mencari bantuan ke spesialis jiwa, karena banyak yang belum menyadari adanya faktor psikologis.
Angka kejadian GERD di Indonesia pun cukup tinggi. Dikutip dari Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (2024), sebanyak 57,6 persen dari sekitar 2.000 responden diketahui mengidap GERD. Angka ini jauh di atas rata-rata kawasan Asia Timur yang hanya berkisar 2 hingga 8 persen. Kondisi ini bahkan banyak dialami kalangan muda, dengan 3 dari 10 mahasiswa terdampak.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, perempuan lebih rentan mengalami GERD dibandingkan laki-laki. Penurunan kadar estrogen, terutama saat menopause, dapat melemahkan katup antara lambung dan kerongkongan sehingga asam lambung lebih mudah naik. Faktor risiko lain meliputi obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres berkepanjangan, serta kurang aktivitas fisik.
Gejala GERD yang umum dirasakan antara lain sensasi panas di ulu hati, rasa asam atau pahit di mulut, serta mual. Pada beberapa kasus, GERD juga dapat menimbulkan nyeri dada, batuk kronis, suara serak, hingga kesulitan menelan. Dikutip dari Fakumi Medical Journal (2024), nyeri ulu hati menjadi keluhan terbanyak, dialami lebih dari 60 persen pasien GERD di rumah sakit.
Pencegahan GERD dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti menghindari makanan berlemak, pedas, cokelat, serta minuman bersoda. Selain itu, penting menjaga pola makan teratur, tidak merokok, dan membatasi konsumsi alkohol. Kementerian Kesehatan menekankan, penanganan GERD yang efektif memerlukan kombinasi pengobatan, psikoterapi, serta dukungan dari lingkungan sekitar. Teknik relaksasi dan meditasi juga terbukti membantu meredakan gejala, terutama pada penderita yang mengalami kecemasan, Masyarakat diimbau tidak menunda konsultasi ke dokter apabila keluhan terjadi berulang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....