Hati-hati! Kebiasaan Gigit Mainan Bisa Berisiko pada Kesehatan Ginjal Anak

  • 18 Apr 2026 12:34 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Kebiasaan anak yang gemar menggigit atau memasukkan mainan ke dalam mulut sering dianggap hal biasa. Namun, perilaku ini ternyata berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, termasuk risiko terhadap fungsi ginjal. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan masuknya partikel berbahaya ke dalam tubuh anak tanpa disadari.

Mengutip merdeka.com, menurut dokter spesialis anak konsultan I Gusti Lanang Sidiartha, salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah paparan mikroplastik. Mainan berbahan plastik dapat menjadi sumber partikel mikroplastik, terutama jika sering digigit atau dikunyah oleh anak. Dalam kondisi tertentu, partikel kecil ini bisa ikut tertelan.

Dalam penjelasannya melalui siaran langsung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, mikroplastik didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran sangat kecil, yaitu kurang dari 5 milimeter. Partikel ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara, termasuk dari benda-benda yang sering dimasukkan ke dalam mulut oleh anak.

Lebih lanjut, mikroplastik yang tertelan berpotensi masuk ke sistem pencernaan, kemudian menyebar melalui aliran darah ke berbagai organ tubuh. Organ-organ seperti hati, ginjal, paru-paru, bahkan otak dapat terpapar partikel ini. Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang secara pasti menyatakan bahwa mikroplastik secara langsung menyebabkan penyakit tertentu, termasuk gangguan ginjal.

Paparan mikroplastik juga dapat berdampak pada saluran pencernaan. Partikel ini diduga dapat merusak sel-sel usus dan memicu peradangan. Selain itu, kebiasaan menggigit mainan yang tidak higienis juga meningkatkan risiko infeksi, seperti diare, akibat kontaminasi kuman yang menempel pada permukaan mainan.

Di sisi lain, kondisi kesehatan anak di Indonesia menunjukkan tren peningkatan berbagai penyakit, mulai dari gangguan pernapasan hingga masalah pencernaan dan perkembangan. Meskipun paparan mikroplastik belum terbukti sebagai penyebab utama, faktor ini diduga menjadi salah satu risiko tambahan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut serta perhatian dari orang tua dan pemangku kebijakan untuk meminimalkan paparan dan melindungi kesehatan anak sejak dini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....