Pemulihan Diri Berhadapan dengan Tekanan Sosial Modern
- 08 Apr 2026 18:42 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Di era digital, manusia modern hidup dalam dua arus yang tampak berlawanan namun sebenarnya saling berkaitan: keinginan untuk pulih dan dorongan untuk mengejar. Di satu sisi, istilah self-healing menjadi populer sebagai simbol kesadaran kesehatan mental.
Di sisi lain, fenomena financial FOMO (fear of missing out dalam investasi) mendorong individu untuk terus bergerak, mengambil risiko, dan tidak tertinggal secara ekonomi. Pertanyaannya: apakah individu hari ini benar-benar sedang pulih, atau justru semakin terjebak dalam tekanan baru yang lebih halus?
Konsep healing pada dasarnya berakar pada pendekatan psikologi humanistik yang menekankan penerimaan diri. Carl Rogers menyebut bahwa perubahan yang sehat justru dimulai dari penerimaan terhadap diri apa adanya. Dalam kerangka ini, healing adalah proses aktif, artinya proses rekonsiliasi dengan realitas diri.
Namun dalam praktik kontemporer, makna ini mengalami distorsi. Healing sering direduksi menjadi aktivitas yang bersifat instan dan konsumtif: liburan spontan, menghindari konflik, atau sekadar menjauh dari tekanan tanpa benar-benar menyelesaikannya. Platform seperti TikTok turut mempercepat simplifikasi ini, di mana narasi psikologis dipadatkan menjadi konten singkat yang mudah dikonsumsi tetapi minim kedalaman.
Akibatnya, muncul fenomena pseudo-healing, yaitu kondisi di mana individu merasa sedang memperbaiki diri, padahal sebenarnya hanya menghindari realitas. Alih-alih menghadapi luka atau ketidaknyamanan, individu justru membungkusnya dengan label "self-care".
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak dan berpikir jernih mungkin justru menjadi bentuk keberanian yang paling langka. Karena bisa jadi, yang kita butuhkan bukan sekadar pulih, melainkan memahami arah dari kehidupan yang sedang kita jalani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....