Antibiotik Pertama untuk Mengatasi Tuberkulosis Ditemukan

  • 25 Okt 2025 19:42 WIB
  •  Biak

KBRN, Biak : Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis . Meskipun dapat diobati, TB tetap menjadi salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Munculnya strain yang resistan terhadap obat telah memperparah kesulitan dalam mengendalikan penyakit ini, menyoroti kebutuhan mendesak akan pengobatan baru yang efektif.

Pada 19 Oktober 1943, Albert Schatz, mahasiswa pascasarjana Rutgers University di Amnerika Serikat, menyadari ia menemukan antibotik baru bernama streptomisin. Penemuan ini menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya ada obat yang efektif melawan tuberkulosis, penyakit mematikan yang kala itu belum ada penawarnya, dilansir dari BBC, (19/10/2025).

Schatz bekerja sendirian di laboratorium bawah tanah kampus. Ia mengisolasi mikroorganisme dari tanah dan kultur darah, lalu mengujinya terhadap bakteri penyebab TBC. "Saya bekerja siang dan malam, sering tidur di laboratorium," tulisnya dalam artikel refleksi 50 tahun penemuan streptomisin.

Dari dua strain bakteri tanah penghasil antibiotik, Streptomyces griseus, yang ia temukan, lahirlah streptomisin yang terbukti mampu menghambat pertumbuhan kuman TBC. Namun, kisah penemuan ini tidak lepas dari kontroversi. Selman Waksman, kepala departemen tempat Schatz meneliti, kemudian lebih dikenal publik sebagai penemu utama.

Kontroversi Penemu Pertama

Bahkan, ia menerima Nobel atas penemuan streptomisin. Schatz menolak anggapan itu. Ia menegaskan bahwa penelitian dilakukan secara mandiri, sementara Waksman baru terlibat setelah hasil awal terbukti. "Saya benar-benar hidup di dalam penemuan ini," tulisnya.

Perselisihan berujung ke pengadilan. Pada 1950, pengadilan New Jersey mengakui Schatz sebagai penemu bersama streptomisin. Meski begitu, nama Waksman tetap lebih menonjol dalam sejarah resmi. Streptomisin segera diproduksi massal dan menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia. Penemuan ini juga membuka era keemasan antibiotik, ketika mikroba tanah yang dulu dianggap remeh justru melahirkan obat-obatan penyelamat manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....