Jalan Raya Kini "Bicara": Sensor IoT Buru Kemacetan dan Emisi, tapi siapa pegang Datamu?

  • 05 Okt 2026 06:30 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak — Pernah terjebak di perempatan yang sepi padahal lampu merahnya lama banget? Itu karena lampu lalu lintas konvensional bekerja berdasarkan jadwal tetap, bukan kondisi jalan yang sebenarnya. Sekarang, di sejumlah kota, jalan raya mulai mengirim data terus-menerus lewat kamera, sensor kendaraan, GPS, dan lampu lalu lintas yang terhubung internet. Inilah Internet of Things (IoT) dalam transportasi pintar (smart transportation).

Tapi pertanyaan besarnya: seberapa besar teknologi ini benar-benar mengurangi macet, dan apakah kota siap mengelola data warganya yang menumpuk setiap hari?

Lampu Merah yang Bisa "Berpikir"

Dengan data jumlah kendaraan, kecepatan rata-rata, dan panjang antrean, sistem bisa memperpanjang lampu hijau di jalur yang sedang padat dan menyesuaikannya saat arus berubah. Organisasi telekomunikasi internasional ITU menyebut IoT di sistem transportasi cerdas bisa dipakai untuk memantau lalu lintas, mengelola kemacetan, meningkatkan keselamatan, dan mendukung transportasi lebih ramah lingkungan.

Uji Coba di Jakarta: Lumayan, Tapi Jangan Kegeeran

Sebuah studi dalam basis data evaluasi sistem transportasi cerdas milik Departemen Transportasi AS melaporkan uji coba manajemen lalu lintas berbasis AI dan IoT di Jakarta. Hasilnya, arus lalu lintas naik 15 persen dan waktu perjalanan di jam sibuk berkurang sekitar 10 menit.

Namun, uji coba di beberapa persimpangan belum tentu berlaku untuk seluruh kota. Kondisi jalan, perilaku pengemudi, kualitas sensor, dan koordinasi antarinstansi ikut menentukan. Singkatnya, IoT bukan tombol ajaib penghilang macet.

Sensor Juga Memburu Sumber Polusi

Macet bikin kendaraan sering berhenti-jalan (stop-and-go), yang membuat bahan bakar lebih boros dan emisi lebih tinggi. Penelitian MIT 2026 memanfaatkan data 331 kamera persimpangan di Manhattan dan data lokasi anonim dari lebih dari 1,75 juta ponsel untuk membuat peta emisi kendaraan per ruas jalan dan per jam. Jadi pertanyaannya bukan lagi "berapa emisi kota ini?", tapi "di mana dan kapan emisi paling parah?"

Temuan lain: setelah congestion pricing diterapkan di area tertentu Manhattan pada Januari 2025, lalu lintas turun sekitar 10 persen dan emisi turun sekitar 16-22 persen. Ini bukan semata jasa IoT, tapi menunjukkan data beresolusi tinggi bisa mengukur dampak kebijakan dengan lebih presisi.

Kota Punya "Kembaran Digital"

Penelitian di jurnal npj Sustainable Mobility and Transport (2026) mengembangkan digital twin, yakni replika digital sistem transportasi, untuk memantau emisi di kawasan perkotaan Atlanta. Kalau sudah matang, pemerintah bisa menguji skenario dulu sebelum diterapkan: bagaimana kalau lampu hijau diubah, atau truk barang dibatasi jam operasinya? Kota tak cuma bereaksi, tapi bisa memprediksi.

Sisi Gelapnya: Privasi dan Koordinasi

Data lokasi bisa menggambarkan pola pergerakan warga dengan sangat detail. Karena itu, sistem harus memisahkan data untuk mengatur lalu lintas dari data yang bisa mengidentifikasi individu. Peneliti MIT menunjukkan pemetaan emisi bisa dilakukan tanpa menyimpan nomor pelat kendaraan, bukti bahwa desain ramah privasi itu mungkin.

Masalah lain adalah interoperabilitas. Sistem milik kepolisian, pemda, operator transportasi, dan vendor teknologi harus bisa saling bertukar data. Kalau tidak, kota hanya punya banyak sistem "pintar" yang jalan sendiri-sendiri.

Kata Warga dan Pakar

Dalam artikel aslinya, ada dua kutipan yang ditulis sebagai opini hipotetis (bukan wawancara nyata). Warga Jakarta bernama Rina (34) berpendapat bahwa yang penting adalah perjalanan ke kantor lebih cepat, bukan apakah lampunya pakai AI atau IoT. Sementara pakar tata kota Dr. Arif Pranoto berpendapat IoT seharusnya jadi alat menjalankan kebijakan, bukan pengganti kebijakan. Kalau kota terus mendorong kendaraan pribadi tanpa membenahi transportasi umum, teknologi hanya membuat macet dikelola lebih canggih.

Potensi Besar, Tapi Butuh Kebijakan yang Tepat

Studi atas 100 kota paling macet di China memperkirakan lampu adaptif berbasis big data bisa memangkas waktu tempuh jam sibuk sekitar 11 persen dan berpotensi mengurangi emisi CO₂ hingga 31,73 juta ton per tahun dalam skenario yang diteliti.

Kuncinya, transportasi pintar butuh tiga hal: data akurat, infrastruktur digital yang aman, dan kebijakan yang mendorong warga memilih transportasi lebih efisien. Sensor tidak menghapus kemacetan, dan algoritma tidak menyingkirkan kendaraan dari jalan. Yang diberikan teknologi adalah kemampuan melihat kondisi lalu lintas hampir seketika, lalu mengambil keputusan berbasis bukti.

Pertanyaan pentingnya sekarang: kota yang makin terkoneksi ini sebenarnya untuk siapa? Jangan sampai kota hanya makin pandai mengumpulkan data, bukan makin nyaman untuk ditinggali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....