Dari Negeri Belanda, Menelusuri Jejak Perjuangan Pahlawan Indonesia
- 22 Jul 2026 17:04 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Di tengah deretan rumah bata merah dan kanal-kanal yang membelah Kota Haarlem, Belanda, terdapat sebuah jalan bernama Mohammed Hattastraat. Bagi sebagian orang, nama itu mungkin hanya penunjuk arah di kawasan permukiman Zuiderpolder. Namun bagi masyarakat Indonesia, keberadaan nama tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Melansir indonesiakaya.com, di negara yang pernah menjajah Indonesia selama lebih dari tiga abad, nama salah satu Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia justru diabadikan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan pemikirannya.
Keberadaan Mohammed Hattastraat menjadi simbol bahwa sejarah dapat berkembang menuju hubungan yang lebih baik. Dari masa kolonial yang penuh luka, kedua negara kini membangun hubungan yang dilandasi saling menghargai. Penamaan jalan tersebut bukan sekadar identitas wilayah, melainkan pengakuan atas peran Mohammad Hatta sebagai tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui diplomasi, pemikiran, dan dialog, bukan semata-mata melalui perjuangan bersenjata.
Pemerintah Kota Haarlem meresmikan nama Mohammed Hattastraat pada tahun 1987 saat mengembangkan kawasan Zuiderpolder. Penghormatan itu tidak terlepas dari kiprah Mohammad Hatta selama menempuh pendidikan di Rotterdam pada dekade 1920-an. Saat aktif di Perhimpunan Indonesia, Hatta dikenal luas melalui berbagai tulisan, pidato, dan gagasannya mengenai kebebasan, persamaan hak, serta martabat bangsa. Pemikirannya mendapat perhatian tidak hanya dari kalangan Indonesia, tetapi juga akademisi dan masyarakat Belanda.
Empat dekade setelah Indonesia meraih kemerdekaan, hubungan Indonesia dan Belanda memasuki babak baru yang lebih terbuka. Dalam konteks itulah nama Mohammad Hatta diabadikan di Haarlem sebagai wujud penghormatan terhadap kontribusinya dalam memperjuangkan kemerdekaan secara damai. Penamaan tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya dikenang melalui peristiwa konflik, tetapi juga melalui nilai-nilai perdamaian, diplomasi, dan saling menghormati.
Penghargaan terhadap tokoh Indonesia di Belanda tidak berhenti pada Mohammad Hatta. Masih di kawasan Zuiderpolder, Haarlem, terdapat Kartinistraat dan Sutan Sjahrirstraat yang mengabadikan nama R.A. Kartini dan Sutan Sjahrir. Di kota lain juga ditemukan nama-nama seperti Munirpad di Den Haag untuk mengenang pejuang hak asasi manusia Munir Said Thalib, Irawan Soejonostraat di Amsterdam, serta usulan Pattimurastraat dan Martha Tiahahustraat di Wierden. Selain itu, beberapa kota seperti Leiden, Utrecht, dan Venlo juga memiliki jalan yang menggunakan nama tokoh-tokoh Indonesia sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi mereka.
Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di Belanda, nama-nama jalan tersebut bukan sekadar penanda lokasi, melainkan simbol penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa. Kehadiran nama Hatta, Kartini, Sjahrir, Munir, Pattimura, dan Martha Christina Tiahahu di ruang publik Belanda menunjukkan bahwa nilai-nilai perjuangan, pendidikan, hak asasi manusia, dan keadilan memiliki makna yang bersifat universal. Dari papan nama jalan yang sederhana, tersimpan pesan bahwa semangat para pahlawan Indonesia akan terus hidup dan dikenang lintas generasi serta melampaui batas-batas negara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....