Alfred Russel Wallace, Penjelajah dan Ilmuwan Inggris Pengungkap Garis Wallace

  • 30 Jun 2026 07:33 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Nama Alfred Russel Wallace mungkin tidak sepopuler Charles Darwin, tetapi kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan dunia sangatlah besar. Melalui penjelajahan selama delapan tahun di Kepulauan Melayu, termasuk wilayah Indonesia, Wallace berhasil mengumpulkan ribuan spesimen tumbuhan dan satwa sekaligus merumuskan gagasan penting tentang evolusi serta persebaran makhluk hidup. Penelitiannya menjadikan Nusantara sebagai salah satu laboratorium alam paling berharga di dunia.

Menurut Britannica.com , Alfred Russel Wallace lahir pada 8 Januari 1823 di Llanbadoc, Monmouthshire, Wales. Sejak muda, ia memiliki ketertarikan besar terhadap alam, geografi, dan kehidupan satwa. Meski tidak menempuh pendidikan tinggi secara formal, Wallace belajar secara mandiri dan mengembangkan kemampuannya sebagai naturalis melalui berbagai ekspedisi ilmiah.

Karier penjelajahannya dimulai pada 1848 ketika ia melakukan penelitian di Hutan Amazon, Brasil. Setelah kembali ke Inggris, Wallace memulai ekspedisi yang lebih besar ke Kepulauan Melayu pada tahun 1854. Selama delapan tahun, ia menjelajahi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua untuk mempelajari keanekaragaman hayati di kawasan tropis.

Dalam ekspedisi tersebut, Wallace berhasil mengumpulkan lebih dari 125.000 spesimen tumbuhan, serangga, burung, mamalia, dan hewan lainnya. Salah satu objek penelitiannya yang paling terkenal adalah burung cenderawasih dari Papua yang memikat perhatian ilmuwan Eropa karena keindahan bulunya.

Pengamatan Wallace juga menghasilkan penemuan penting yang kini dikenal sebagai Wallace Line atau Garis Wallace. Garis imajiner ini membentang di antara Pulau Bali–Lombok serta Kalimantan–Sulawesi dan menunjukkan perbedaan mencolok antara fauna Asia dan Australasia. Hingga kini, konsep tersebut masih menjadi dasar dalam kajian biogeografi modern.

Saat berada di Pulau Halmahera pada tahun 1858, Wallace menulis esai berjudul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type. Tulisan itu dikirim kepada Charles Darwin, yang ternyata telah lama mengembangkan gagasan serupa mengenai evolusi melalui seleksi alam. Karya keduanya kemudian dipresentasikan bersama di Linnean Society of London, menandai lahirnya teori evolusi modern.

Sepulang dari Nusantara, Wallace menerbitkan buku The Malay Archipelago pada tahun 1869. Buku tersebut menjadi salah satu karya klasik dalam dunia ilmu pengetahuan karena memuat catatan perjalanan, budaya masyarakat, serta kekayaan flora dan fauna Indonesia yang belum banyak dikenal dunia pada masa itu.

Alfred Russel Wallace wafat pada 7 November 1913 di Dorset, Inggris, pada usia 90 tahun. Meski namanya kerap berada di bawah bayang-bayang Darwin, kontribusinya terhadap biologi, ekologi, dan biogeografi diakui sebagai salah satu yang paling penting dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Hingga kini, Wallace dikenang sebagai ilmuwan yang memperkenalkan kekayaan hayati Nusantara kepada dunia. Penjelajahannya membuktikan bahwa Indonesia bukan hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki nilai ilmiah yang luar biasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....