Mengenal Herman Willem Daendels, Tokoh di Balik Jalan Raya Anyer - Panarukan
- 20 Jun 2026 19:15 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Nama Herman Willem Daendels selalu lekat dengan pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang membentang dari Anyer hingga Panarukan di Pulau Jawa. Meski pemerintahannya berlangsung singkat, kebijakan dan proyek yang dijalankannya meninggalkan jejak besar dalam sejarah Indonesia pada masa kolonial Belanda.
Menurut britannica.com , Herman Willem Daendels lahir di Hattem, Belanda, pada 21 Oktober 1762. Ia merupakan seorang perwira militer yang dikenal tegas, disiplin, dan memiliki kemampuan organisasi yang kuat. Pada tahun 1808, Raja Belanda saat itu, Louis Bonaparte, mengangkat Daendels sebagai Gubernur Jenderal di Hindia Belanda.
Ketika tiba di Jawa, Daendels menghadapi situasi yang tidak mudah. Ancaman serangan Inggris semakin kuat, sementara kondisi pertahanan dan administrasi kolonial dinilai lemah. Untuk memperkuat pertahanan, ia melakukan berbagai reformasi, termasuk membangun benteng, memperkuat angkatan bersenjata, serta menata kembali sistem pemerintahan.
Kebijakan Daendels yang paling terkenal adalah pembangunan Jalan Raya Pos sepanjang sekitar 1.000 kilometer yang menghubungkan ujung barat hingga ujung timur Pulau Jawa. Jalan ini dibangun untuk mempercepat mobilitas pasukan, pengiriman surat, dan distribusi logistik. Hingga kini, sebagian jalur tersebut masih menjadi bagian dari jaringan jalan utama di Pulau Jawa.
Namun, proyek ambisius itu juga menyisakan catatan kelam. Pembangunan jalan dilakukan dalam waktu singkat dengan memanfaatkan kerja paksa rakyat. Banyak pekerja mengalami penderitaan, bahkan tidak sedikit yang meninggal akibat kondisi kerja yang berat. Karena itu, nama Daendels sering dipandang dari dua sisi: sebagai pembaru administrasi sekaligus tokoh kolonial yang menerapkan kebijakan keras terhadap penduduk pribumi.
Selain membangun jalan, Daendels juga melakukan reformasi birokrasi dengan mengurangi pengaruh para bangsawan lokal dalam pemerintahan dan memperkuat kontrol pemerintah kolonial. Langkah ini dianggap sebagai upaya modernisasi administrasi, meskipun tujuan utamanya tetap untuk memperkuat kekuasaan Belanda di Nusantara.
Pada tahun 1811, Daendels dipanggil kembali ke Eropa dan posisinya digantikan oleh Jan Willem Janssens. Tidak lama kemudian, Jawa jatuh ke tangan Inggris yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.
Lebih dari dua abad setelah masa pemerintahannya berakhir, Herman Willem Daendels tetap menjadi salah satu tokoh yang paling banyak dibahas dalam sejarah Indonesia. Warisannya berupa Jalan Raya Pos masih dapat dirasakan hingga sekarang, sementara kebijakan-kebijakannya menjadi pengingat akan kompleksitas masa kolonial yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....