OpenAI Luncurkan GPT-Rosalind untuk Riset Biologi dan Obat
- 16 Mei 2026 14:21 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak — OpenAI resmi meluncurkan model kecerdasan buatan terbaru bernama GPT-Rosalind pada Kamis, 16 April 2026 waktu Amerika Serikat. Model ini difokuskan untuk mendukung riset di bidang ilmu hayati, dengan keunggulan pada pemahaman biologi serta kemampuan analisis ilmiah yang lebih mendalam. Dikutip dari Kompas.com, GPT-Rosalind dikembangkan untuk membantu para peneliti dalam menganalisis data biologis yang kompleks, mulai dari studi genetika, penemuan obat, hingga pemodelan sistem biologis.
Selain itu, model ini juga dirancang mampu membaca dan merangkum literatur ilmiah dalam jumlah besar secara cepat dan akurat, sehingga dapat mempercepat proses pengambilan keputusan dalam penelitian. Dengan kemampuan tersebut, GPT-Rosalind diharapkan menjadi alat pendukung yang signifikan dalam menghadapi berbagai tantangan di bidang kesehatan global, termasuk pengembangan terapi baru dan penanganan penyakit menular.
Dilansir dari Kompas.com, model ini secara spesifik difokuskan pada tiga bidang utama, yakni biokimia, penemuan obat, dan kedokteran translasi. Peluncurannya sejalan dengan meningkatnya kebutuhan alat bertenaga AI di kalangan perusahaan farmasi, lembaga akademik, dan perusahaan bioteknologi yang berlomba mempercepat proses riset dan pengembangan obat. Dalam blog resminya, OpenAI menjelaskan bahwa GPT-Rosalind dirancang untuk mendukung sintesis bukti, pembuatan hipotesis, perencanaan eksperimen, hingga berbagai tugas penelitian multi-langkah lainnya. Pengujian lebih mendalam juga dilakukan melalui LABBench2, yang menguji kemampuan model dalam berbagai tugas ilmiah spesifik. Hasilnya, GPT-Rosalind mampu melampaui GPT-5.4 pada enam dari sebelas tugas yang diuji, dengan peningkatan paling signifikan pada tugas CloningQA, yakni skenario perancangan reagen secara menyeluruh untuk protokol kloning molekuler.
OpenAI juga menegaskan bahwa model ini tidak dirancang untuk menggantikan para ilmuwan, melainkan untuk membantu mereka bekerja lebih efisien dalam menjalankan pekerjaan yang paling memakan waktu dan menuntut analisis mendalam. Kehadiran teknologi ini menandai langkah maju dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk sains, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara peneliti, institusi akademik, dan industri dalam mencari solusi terhadap berbagai tantangan kesehatan global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....