Mekar di Negeri Paman Sam, Bunga Bangkai dari Sumatera dijuluki “Pangy”

  • 29 Apr 2026 07:26 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Fenomena mekarnya bunga bangkai kembali menarik perhatian publik di Amerika Serikat. Melansir goodnewsfromindonesia.id, peristiwa langka ini terjadi di Mount Holyoke College, ketika tanaman bernama ilmiah Amorphophallus titanum memasuki fase berbunga. Spesies eksotis ini berasal dari hutan hujan tropis Sumatra, Indonesia, dan dikenal luas karena keunikannya.

Di area kampus, tanaman tersebut diberi nama “Pangy” oleh para pengelola dan ditempatkan di dalam rumah kaca sebagai bagian dari koleksi botani. Momen mekarnya menjadi sangat istimewa karena bunga bangkai tidak memiliki jadwal berbunga yang pasti. Selain itu, masa mekarnya pun sangat singkat, sehingga setiap kemunculannya selalu dinanti dan menarik perhatian banyak orang.

Bunga bangkai dikenal sebagai salah satu tumbuhan dengan perbungaan terbesar di dunia. Secara ilmiah, yang terlihat sebagai satu bunga besar sebenarnya adalah kumpulan bunga-bunga kecil yang tersusun dalam satu struktur. Bagian tengahnya disebut spadix, yaitu batang tegak sebagai pusat, sementara bagian luarnya diselimuti spathe berwarna ungu gelap. Ketika memasuki fase berbunga, tanaman ini dapat tumbuh dengan cepat setelah melewati masa dormansi panjang yang bisa berlangsung bertahun-tahun.

Menjelang masa mekarnya, “Pangy” menunjukkan pertumbuhan yang cukup pesat dalam beberapa pekan sebelumnya. Hal ini menjadi tanda bahwa tanaman sedang bersiap untuk berbunga. Namun, setelah mencapai puncak mekarnya, kondisi tersebut hanya bertahan selama beberapa hari sebelum akhirnya layu kembali. Singkatnya durasi ini menjadi salah satu alasan mengapa peristiwa tersebut selalu mengundang perhatian besar.

Ciri khas lain dari Amorphophallus titanum adalah aroma menyengat yang dihasilkannya saat mekar. Bau tersebut kerap diibaratkan seperti daging busuk atau limbah organik yang membusuk. Aroma ini bukan sekadar efek samping, melainkan strategi alami untuk menarik serangga penyerbuk seperti lalat dan kumbang yang tertarik pada bau tersebut.

Pihak kebun botani menjelaskan bahwa bau ekstrem tersebut memiliki fungsi penting dalam proses reproduksi tanaman. Dengan menarik perhatian serangga, peluang terjadinya penyerbukan menjadi lebih besar. Fenomena mekarnya “Pangy” pun memicu antusiasme tinggi dari pengunjung yang datang untuk menyaksikan langsung, sekaligus menjadi sarana edukasi tentang kekayaan hayati Indonesia dan pentingnya upaya konservasi terhadap spesies langka di dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....