Tim Cook Mundur dari Apple, Tinggalkan Perusahaan Senilai Rp 68 Ribu Triliun

  • 23 Apr 2026 19:32 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak : Dunia teknologi global kembali diwarnai pergantian besar. Tim Cook, sosok yang selama 15 tahun menakhodai Apple, resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Chief Executive Officer (CEO). Kursi pemimpin raksasa teknologi senilai USD 4 triliun atau setara Rp 68 ribu triliun itu akan beralih tangan pada 1 September 2026.

Penerus yang Sudah Lama Dipersiapkan

Tongkat kepemimpinan akan diserahkan kepada John Ternus, bos divisi hardware Apple. Keputusan ini sejatinya bukan kejutan besar bagi kalangan industri. Sejumlah media terkemuka telah mengulas profil Ternus selama beberapa bulan terakhir, termasuk New York Times yang menerbitkan artikel bertajuk "The Man Who Could Be Apple's Next C.E.O." pada bulan Januari.

Meski demikian, melansir detikInet, Kamis, 23 April 2026, waktu pengumuman ini mengejutkan sebagian kalangan. Gene Munster, managing partner di Deepwater, mengungkapkan bahwa langkah ini terjadi sekitar dua tahun lebih cepat dari perkiraannya.

Warisan 15 Tahun yang Monumental

Cook mewarisi Apple dari pendirinya, Steve Jobs, pada 2011 — tepat di saat Jobs mengundurkan diri sesaat sebelum meninggal dunia akibat kanker. Dalam rentang 15 tahun kepemimpinannya, Cook tidak membangun Apple dari nol, tetapi ia membesarkannya secara luar biasa.

Kapitalisasi pasar Apple melonjak dari sekitar USD 350 miliar menjadi USD 4 triliun di bawah kepemimpinannya. Pendapatan perusahaan pun meningkat nyaris empat kali lipat, menembus angka lebih dari USD 400 miliar pada tahun fiskal terbaru.

Investor pun menjadi pihak yang paling diuntungkan. Saham Apple melonjak hampir 20 kali lipat dibanding saat Cook pertama menjabat, sementara indeks S&P 500 hanya naik sekitar enam kali lipat pada periode yang sama.

Kekuatan di Balik Layar: Operasional dan Strategi

Cook bukan tipe pemimpin yang dikenal karena melahirkan produk revolusioner. Kekuatannya justru terletak pada kemampuan manajerial dan ketajaman strategi bisnis. Sebagian besar analis mengaitkan kesuksesannya pada ketelitian dan disiplin finansial, alih-alih inovasi produk.

Rick Wargo, managing partner di firma Boyden, menilai Cook kemungkinan besar akan dikenang atas kepemimpinan operasionalnya yang berhasil mentransformasi dan mengekspansi Apple secara global, memperdalam platform layanannya, memperkuat rantai pasokan, serta menjadikan perusahaan lebih tangguh secara operasional.

Rekam jejak Cook memang tak lepas dari dunia operasional. Ia bergabung dengan Apple pada 1998 saat perusahaan itu berada di ambang kebangkrutan dan berhasil merombak total rantai pasok Apple. Ia kemudian dipromosikan sebagai Chief Operating Officer pada 2005, dua tahun sebelum iPhone pertama diluncurkan.

Piawai Menavigasi Tekanan Politik

Salah satu ujian terberat Cook di masa akhir jabatannya adalah menghadapi kebijakan tarif era pemerintahan Donald Trump. Apple sangat rentan terhadap kebijakan ini mengingat ketergantungannya yang besar terhadap fasilitas produksi di China.

Namun Cook justru tampil ciamik. Saham Apple naik sekitar 20 persen sejak masa jabatan kedua Trump dimulai pada Januari 2025. Cook mendekati sang presiden dengan berbagai cara, termasuk mendampinginya dalam acara di Ruang Oval untuk mengumumkan komitmen investasi Apple senilai USD 100 miliar di sektor manufaktur Amerika, sekaligus menghadiahkan sebuah plakat emas kepada Trump. Total rencana pengeluaran Apple di AS mencapai USD 600 miliar selama lima tahun ke depan.

Fondasi Kokoh untuk Penggantinya

Cook juga berhasil memperluas basis pengguna Apple yang kini mencapai 2,5 miliar perangkat aktif di seluruh dunia, hasil dari langkah strategisnya mendiversifikasi bisnis dan mengkapitalisasi ekosistem Apple secara menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....