Temuan Mengejutkan! Tumbuhan Purba 65 Juta Tahun Ditemukan di Geopark Ijen

  • 21 Apr 2026 14:32 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Penelitian yang dilakukan oleh dosen Program Studi Biologi Fakultas MIPA Universitas Jember mengungkap adanya tumbuhan yang tergolong peninggalan masa prasejarah di kawasan Geopark Ijen. Lokasi penemuan ini berada di wilayah Erek-erek Geoforest, yang dikenal memiliki kondisi lingkungan alami yang masih terjaga. Fokus penelitian tertuju pada tumbuhan paku dari marga Cyathea yang diperkirakan telah ada sejak sekitar 65 juta tahun lalu.

Dikutip dari goodnewsfromindonesia.id, dalam penelitian tersebut, tim menemukan dua spesies paku pohon, yakni Cyathea contaminans dan Cyathea orientalis. Kedua jenis ini tumbuh pada ketinggian antara 1.600 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut. Lingkungan hutan yang lembap, tertutup kanopi lebat, serta ketersediaan air yang melimpah menjadi faktor utama yang mendukung pertumbuhan optimal tumbuhan tersebut.

Beberapa paku pohon yang ditemukan bahkan memiliki tinggi mencapai enam hingga 10 meter, menyerupai pohon kelapa. Ukuran yang besar ini menunjukkan bahwa kondisi ekologis kawasan Erek-erek Geoforest sangat mendukung keberlangsungan hidup spesies tersebut. Keberadaan paku pohon ini juga menjadi indikator bahwa lingkungan di kawasan tersebut relatif stabil dalam jangka waktu yang panjang.

Kelestarian Erek-erek Geoforest tidak terlepas dari kondisi bentang alam di sekitarnya. Kawasan ini secara alami terlindungi oleh struktur geologi seperti Gunung Rante, yang diduga berperan sebagai pelindung dari dampak letusan Gunung Ijen purba. Perlindungan alami ini membuat ekosistem di dalamnya tetap terjaga dari gangguan besar, termasuk aktivitas vulkanik.

Para peneliti mencatat bahwa kondisi hutan di kawasan ini memiliki kemiripan dengan hutan purba, baik dari segi struktur vegetasi maupun komposisi flora. Paku pohon yang hampir tidak mengalami perubahan bentuk sejak jutaan tahun lalu menjadi salah satu indikator penting dalam memahami proses evolusi tumbuhan darat. Karena itu, spesies ini sering dijuluki sebagai “fosil hidup”.

Penelitian lanjutan dilakukan untuk mengkaji karakter morfologi paku pohon secara lebih rinci, termasuk tinggi batang, warna sisik, bentuk spora, hingga mekanisme reproduksinya. Tumbuhan paku berkembang biak menggunakan spora, bukan biji, sehingga struktur spora menjadi kunci dalam proses identifikasi dan klasifikasi. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya data ilmiah terkait tumbuhan purba tersebut.

Erek-erek Geoforest sendiri dikategorikan sebagai kawasan dengan nilai konservasi tinggi. Status ini menegaskan pentingnya perlindungan terhadap ekosistem yang ada di dalamnya, baik flora maupun fauna. Keberadaan tumbuhan prasejarah seperti Cyathea menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga kelestarian kawasan ini demi keberlanjutan ilmu pengetahuan dan lingkungan di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....