SMAN 2 Biak Ciptakan Minyak Gosok Khas Biak, Bernilai Ekonomis

  • 14 Apr 2026 13:11 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID,Biak – Sebagai bagian dari ujian praktik Bidang Study Prakarya dan Kewirausahaan, siswa kelas XII SMA Negeri 2 Biak menciptakan inovasi menarik dengan memproduksi minyak gosok khas Biak Papua. Produk buatan tangan para siswa ini tidak hanya menjadi nilai ujian, tetapi juga diminati masyarakat bahkan laku terjual hingga ke wilayah Supiori.

Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Biak, Mesias Demetouw, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan pembelajaran yang kreatif ini. Menurutnya, materi ini sangat bermanfaat karena mengajarkan siswa untuk mengolah kekayaan alam di sekitarnya menjadi barang bernilai ekonomi.

"Siswa kelas 12 melaksanakan ujian praktik Prakarya dan Kewirausahaan dengan membuat minyak gosok khas daerah Biak, Papua. Ada sekitar 110 siswa dari semua jurusan, baik IPA, IPS, maupun Bahasa, yang terlibat dalam bentuk kelompok," ujarnya saat dihubungi RRI, Selasa 14 April 2026.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar transfer ilmu, tetapi membekali siswa dengan keterampilan hidup.

"Kami berterima kasih kepada para guru, khususnya Ibu Diana Dawan, yang sudah membimbing anak-anak. Ini bisa dikembangkan ke depan. Ilmu yang didapat bukan hanya untuk nilai, tapi bisa menjadi modal usaha. Mereka bisa mencari penghasilan dari apa yang dikerjakan ini," tambahnya.

Sementara itu, Guru Bidang Study Prakarya dan Kewirausahaan, Diana Dawan, memaparkan detail pembuatan minyak gosok tersebut. Tahun ini menjadi kali pertama ia mengangkat tema obat-obatan tradisional setelah sebelumnya fokus pada makanan khas.

"Di semester ganjil kami membuat makanan, tapi di semester genap ini saya arahkan ke obat-obatan tradisional khas Biak, yaitu minyak gosok. Bahan dasarnya menggunakan minyak kelapa asli dicampur rempah-rempah seperti serai, jahe, dan lengkuas, termasuk juga membuat Minyak Pandemor yang terkenal di Biak," jelas Diana.

Para siswa diajarkan mulai dari proses pembuatan hingga tahap pengemasan yang menarik dan higienis. Botol-botol yang digunakan ada yang merupakan daur ulang sampah plastik yang dicuci bersih, namun banyak juga yang membeli botol baru berukuran besar hingga kecil yang bentuknya estetik seperti tumbler.

"Setiap botol diberi label lengkap yang mencantumkan khasiat, nama sekolah, kelas, kelompok, dan komposisi bahannya. Total ada sekitar 30-an botol dengan berbagai ukuran yang diproduksi oleh 5 kelas yang dibagi menjadi beberapa kelompok," tambahnya.

Keberhasilan terlihat nyata saat dilakukan eksibisi penjualan di lingkungan sekolah. Produk ini mendapat respon sangat positif, tidak hanya dari sesama siswa tetapi juga dari para guru dan pimpinan sekolah.

"Kemarin kami coba jual di lingkungan sekolah, dan bersyukur laku banyak. Dibeli oleh Bapak Kepala Sekolah, Bapak Ibu Guru, dan teman-teman siswa. Bahkan ada yang memesan sampai ke Supiori, laku dengan harga rata-rata Rp50.000," ungkapnya.

Antusiasme ini memicu semangat baru bagi guru dan siswa. Diana berharap karya ini bisa lebih dikenal luas dan mendapatkan perhatian dari instansi terkait untuk dikembangkan lebih lanjut.

"Saya senang sekali karena nama SMA Negeri 2 bisa tersebar. Harapan saya ke depannya, ini bisa ditindaklanjuti. Mungkin ada instansi terkait yang bisa bekerja sama, sehingga produk obat-obatan tradisional buatan siswa ini tidak hanya dikenal di sekolah, tapi juga oleh masyarakat luas di Kabupaten Biak Numfor, agar generasi muda semakin mengenal obat khas daerah sendiri," ungkapnya mengakhiri

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....