Mengapa Kita Sulit Lepas dari Media Sosial?

  • 03 Apr 2026 16:18 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Media sosial bukan sekadar hiburan, tetapi dirancang untuk membuat kita terus kembali. Setiap notifikasi, like, dan komentar memicu dopamin di otak, menciptakan rasa senang dan kepuasan sesaat yang membuat kita ingin mengulanginya lagi dan lagi.

Algoritma berperan besar dalam hal ini. Konten yang muncul selalu disesuaikan dengan minat dan kebiasaan kita, sehingga terasa relevan dan sulit ditinggalkan. Waktu pun berlalu tanpa terasa. Ditambah dengan fenomena FOMO (fear of missing out), kita terdorong untuk terus memeriksa media sosial karena takut ketinggalan tren atau momen penting. Padahal, yang ditampilkan sering kali hanya sisi terbaik kehidupan orang lain, bukan realitas sepenuhnya.

Dampaknya tidak bisa diabaikan. Penggunaan berlebihan dapat mengganggu pola tidur, menurunkan fokus dan produktivitas, serta memicu kecemasan, stres, bahkan rasa tidak percaya diri. Tanpa disadari, waktu berharga habis untuk konsumsi konten yang tidak selalu memberi manfaat nyata.

Solusinya bukan berhenti total, melainkan mengelola penggunaan dengan bijak. Membatasi waktu layar, mematikan notifikasi yang tidak penting, serta mengganti kebiasaan scroll dengan aktivitas produktif seperti membaca, berolahraga, atau berinteraksi langsung dapat membantu. Pada akhirnya, kendali tetap ada di tangan kita: apakah kita menggunakan media sosial, atau justru dikendalikan olehnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....