Tertua di Dunia, Inilah Pakaian Adat dari Sulawesi Selatan
- 14 Nov 2024 06:34 WIB
- Biak
KBRN, Biak : Keragaman budaya yang dimiliki Indonesia begitu kaya dan Indah. Hal ini dapat terlihat dari tiap lapis suku, adat istiadat dan lainnya, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Salah satu bukti kekayaan tersebut terletak pada suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan. Mengutip goodnewsfromindonesia.id, kebanyakan orang menganggap bahwa suku Bugis dan Makassar merupakan suku yang sama, tetapi ternyata kedua suku ini memiliki sejarah dan kebudayaan yang berbeda, yaitu terletak pada bahasa daerah, dialek yang digunakan, wilayah tempat tinggal, hingga lagu dan tarian daerah.
Meski demikian, ada banyak kesamaan adat dan budaya suku Bugis dan Makassar sehingga keduanya sering dikaitkan dan dianggap sama. Salah satu kesamaannya dapat dilihat dari pakaian adat yang kerap disebut sebagai pakaian adat Bugis-Makassar yang sarat akan makna filosofisnya.
Pakaian adat Bugis-Makassar memiliki keistimewaan dan keunikan berupa corak khas dengan warna – warna cerah yang menyala seperti warna kuning, merah muda, hijau, dan merah. Corak khas yang ditonjolkan mirip dengan gaya ketimur-timuran, dipadukan dengan corak lokal masyarakat setempat serta cocok dipadukan dengan aksesoris pelengkap. Pakaian adatnya pun terdiri atas dua jenis yaitu baju adat wanita dan pria.
1. Baju Adat Wanita
Baju bodo merupakan salah satu warisan baju adat tertua di Indonesia. Sejak ratusan tahun yang lalu, baju bodo telah digunakan oleh penduduk Sulawesi Selatan. Baju ini pun telah mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya zaman.
Para wanita mengenakan baju bodo dalam upacara adat serta dalam kesehariannya. Pada awalnya, baju bodo digunakan tanpa penutup bagian payudara. Namun, ketika Islam masuk ke tanah Sulawesi, baju ini kemudian disesuaikan dengan syariat Islam, yaitu ditambahkan dalaman berwarna senada untuk menutupi daerah yang terbuka. Baju bodo berbentuk segi empat dengan lengan pendek, sesuai namanya yaitu ‘bodo’ yang berarti pendek. Ukurannya juga lebih longgar dari ukuran tubuh pemakainya.
Baju ini memiliki keunikan yang terletak pada ragam warna yang melambangkan usia maupun status sosial sang pemakai. Baju adat ini pun terdapat beragam warna dengan peruntukannya masing – masing, antara lain : Jingga (Warna ini digunakan untuk anak perempuan berusia kurang dari atau sampai dengan 10 tahun), Jingga dan merah (Kedua kolaborasi warna ini biasanya digunakan pada anak perempuan berusia 10 hingga 14 tahun), Merah (Warna merah biasanya digunakan oleh perempuan remaja atau wanita berusia 17 hingga 25 tahun), Putih (Warna putih pada pakain adat tersebut melambangkan bahwa seorang pemakainya merupakan dukun atau pembantu), Hijau (Pemakai baju bodo berwarna hijau adalah seorang bangsawan), Ungu (Seorang janda juga memiliki warna baju bodo yang spesial, yaitu warna ungu).
Meskipun terdapat aturan warna dalam pemakaiannya, saat ini aturan tersebut telah pudar. Siapa saja dapat menggunakan beragam warna baju bodo tanpa mengenal umur dan status sosial.
2. Baju Adat Pria
Baju adat untuk laki-laki dikenal juga dengan sebutan baju jas tutu’. Baju ini mirip dengan jas pada umumnya yang berwarna hitam, berlengan panjang, memiliki kerah pada leher, dan bagian dada yang tertutup. Keunikan baju jas tutu’ terletak pada penggunaan kancing yang terbuat dari emas atau perak. Kancing ini menghiasi baju tersebut di bagian leher.
Sebagai pelengkap, baju jas tutu’ digunakan bersamaan dengan celana kain hitam dan lipa sabbe, yaitu sarung sutra berwarna cerah yang juga digunakan sebagai padanan pada baju bodo. Selain itu, terdapat songkok recca atau songkok pa’biring yang terbuat dari anyaman rotan dan benang sutera berwarna emas di pinggiran hingga ke bagian atas songkok.
Itulah keunikan dan keistimewaan dari pakaian adat tertua di dunia dari indonesia, yaitu pakaian adat Sulawesi Selatan. Menarik bukan? Yuk, kita jaga dan lestarikan budaya Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....