Ancaman El Nino Berdampak Perubahan Iklim Global

  • 14 Jun 2026 13:58 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mengonfirmasi terbentuknya El Nino di Samudra Pasifik pada Kamis, 11 Juni 2026. Fenomena pemanasan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik dekat khatulistiwa itu diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Para ilmuwan memperingatkan El Nino berpotensi memperparah pemanasan global sekaligus memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Para ahli meteorologi memperkirakan El Nino kali ini dapat menyamai atau bahkan melampaui peristiwa serupa pada 1997. Saat itu, El Nino memicu berbagai bencana cuaca, mulai dari gelombang panas, banjir, kekeringan, tornado, hingga kebakaran hutan yang menyebabkan kerugian miliaran dolar.

NOAA menyebut peluang El Nino berkembang menjadi sangat kuat pada akhir tahun mencapai 63 persen. Jika terjadi, fenomena tersebut akan masuk dalam jajaran El Nino terbesar yang pernah tercatat sejak 1950. Menurut ilmuwan iklim Clark University Abby Frazier, El Nino membawa panas dalam jumlah besar ke permukaan laut sehingga mengubah pola cuaca dan meningkatkan risiko berbagai peristiwa cuaca ekstrem di banyak wilayah dunia. "Di kawasan Pasifik, dampaknya bisa menjadi sangat serius dalam waktu singkat,"Ucap Frazier.

Mnengutip lliputan6.com. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyebut El Nino sebagai "peringatan iklim yang mendesak". "Kondisi El Nino akan menambah bahan bakar pada api dunia yang sedang menghangat," ujarnya dalam sebuah pesan video.

Dampak El Nino tidak dirasakan secara sama di seluruh dunia. Sebagian wilayah berpotensi memperoleh manfaat, sementara wilayah lain menghadapi ancaman cuaca yang lebih besar. Di Amerika Selatan bagian barat, hujan lebat dan banjir diperkirakan lebih sering terjadi. India diperkirakan menghadapi gelombang panas yang lebih intens. Sementara itu, Afrika Timur Laut berpotensi mengalami perubahan cuaca tajam, dari kekeringan parah menjadi hujan deras yang berbahaya. Sebaliknya, sejumlah wilayah di Timur Tengah yang selama ini dilanda kekeringan berpeluang memperoleh curah hujan yang lebih baik.

Kondisi sebaliknya terjadi di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Indonesia harus bersiap menghadapi ancaman kekeringan parah dan risiko kebakaran hutan lahan (karhutla) sepanjang musim kemarau 2026 ini. Puncak dampak kekeringan tersebut diproyeksikan terjadi pada Agustus 2026. El Nino juga memengaruhi aktivitas badai. Fenomena ini biasanya mengurangi aktivitas badai di kawasan Atlantik, tetapi meningkatkan aktivitas badai di Pasifik. Kondisi tersebut dapat mengurangi ancaman badai bagi pantai timur Amerika Serikat, namun meningkatkan risiko bagi Hawaii dan sejumlah wilayah kepulauan di Pasifik.

Ekonom iklim Stanford University Marshall Burke mengatakan kenaikan suhu yang dipicu El Nino berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Sejumlah ilmuwan bahkan memperkirakan 2027 dapat menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat. Prediksi tersebut didasarkan pada dampak El Nino yang biasanya masih terasa setelah fenomena itu mencapai puncaknya.

Secara umum, El Nino terbentuk pada musim panas, mencapai puncak pada akhir tahun, lalu melemah pada musim semi berikutnya. Namun, tim peneliti yang dipimpin Muhammad Azhar Ehsan memperkirakan El Nino kali ini dapat mencapai puncaknya satu hingga dua bulan lebih cepat dibandingkan pola normal. Ilmuwan iklim Princeton University, Gabriel Vecchi, mengatakan tanda-tanda awal El Nino kali ini terlihat sangat kuat. Salah satu indikatornya adalah perairan hangat yang bergerak menuju permukaan Samudra Pasifik.

Menurut Vecchi, para peramal cuaca biasanya memiliki prediksi yang beragam pada tahap awal kemunculan El Nino. Namun kali ini, banyak proyeksi menunjukkan kemungkinan terbentuknya El Nino yang sangat kuat. Para ilmuwan memperkirakan pemanasan global akibat pembakaran batu bara, minyak, dan gas dapat memicu El Nino yang lebih kuat pada masa depan. Namun, mereka menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah fenomena yang terjadi saat ini merupakan bagian dari tren tersebut. Bahkan sebelum resmi terbentuk, El Nino kali ini telah mendapat berbagai julukan, mulai dari "Super El Nino" hingga "Godzilla".

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....