Tanggal 15 April 1986: Serangan Udara AS ke Libya Picu Kecaman Internasional

  • 15 Apr 2026 09:51 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat ke Libya pada 15 April 1986 mengguncang dunia internasional. Rentetan bom yang menghantam ibu kota Tripoli dan wilayah Benghazi dilaporkan menewaskan sedikitnya 100 orang serta memicu kecaman luas dari berbagai negara. Sekitar 66 jet tempur AS, sebagian di antaranya lepas landas dari pangkalan di Inggris, melancarkan serangan sekitar pukul 01.00 waktu setempat. Juru bicara Gedung Putih, Larry Speakes, menyatakan bahwa operasi tersebut menargetkan fasilitas militer utama. Namun, laporan di lapangan menunjukkan bahwa rudal juga menghantam kawasan permukiman padat di Bin Ashur, pinggiran Tripoli.

Salah satu target serangan adalah kompleks kediaman pemimpin Libya saat itu, Muammar Gaddafi. Serangan tersebut menewaskan Hanna Gaddafi, bayi perempuan angkatnya, serta menyebabkan kerusakan signifikan di area sekitarnya, dikutip dari BBC, Rabu (15/4/2026). Presiden AS saat itu, Ronald Reagan, membenarkan operasi militer tersebut dalam pidato yang disiarkan dua jam setelah serangan. Ia menuduh Libya terlibat langsung dalam aksi terorisme terhadap warga Amerika, termasuk pengeboman diskotek La Belle di Berlin Barat beberapa hari sebelumnya.

Dalam pidatonya, Reagan menegaskan bahwa AS bertindak berdasarkan hak membela diri sebagaimana diatur dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Pasal 51 Piagam PBB. Ia menyatakan bahwa Amerika akan merespons setiap serangan terhadap warganya di mana pun berada selama ia menjabat sebagai presiden. Pihak Gedung Putih juga menegaskan bahwa operasi militer telah direncanakan secara cermat untuk meminimalkan korban sipil. Namun, dampak di lapangan menunjukkan kerusakan luas tidak hanya pada target militer seperti akademi angkatan laut, bandara militer, dan barak tentara, tetapi juga di kawasan diplomatik serta permukiman warga.

Rumah sakit di Tripoli melaporkan ratusan korban luka, termasuk warga negara asing dari Yunani, Italia, dan Yugoslavia. Situasi pasca-serangan memicu kemarahan warga, dengan sejumlah penyintas turun ke jalan meneriakkan kecaman terhadap Amerika Serikat. Ketegangan juga meluas ke tingkat internasional, terutama terkait keterlibatan Inggris dalam operasi tersebut. Muncul kekhawatiran bahwa negara tersebut dapat menjadi sasaran aksi balasan. Kelompok militan yang berbasis di Suriah, Sel Revolusioner Arab, bahkan menyatakan akan menargetkan kepentingan Amerika dan Inggris.

Serangan ini menjadi salah satu momen penting dalam dinamika geopolitik era Perang Dingin, mempertegas eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Libya serta meningkatkan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....