26 Maret 1997: Tragedi Heaven’s Gate Menggemparkan AS 39 Orang Ditemukan Tewas
- 26 Mar 2026 10:01 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Washington, DC - Pada Rabu, 26 Maret 1997, polisi di Rancho Santa Fesebuah kawasan permukiman elite di wilayah San Diego, California, Amerika Serikat (AS)—mendatangi sebuah rumah mewah setelah menerima laporan dari mantan anggota kelompok Heaven's Gate yang menyebut adanya orang-orang yang telah meninggal di dalam rumah tersebut. Di dalam rumah itu, polisi menemukan 39 orang dalam kondisi tidak bernyawa. Berdasarkan catatan investigasi otoritas setempat, seluruh korban terbaring rapi di tempat tidur tanpa tanda perlawanan atau luka akibat kekerasan. Mereka mengenakan pakaian yang sama—kemeja dan celana hitam—serta sepatu olahraga Nike. Wajah mereka ditutupi kain berwarna ungu. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai tragedi bunuh diri massal Heaven's Gate. Demikian melansir laman liputan.com.
Kelompok Heaven’s Gate dipimpin oleh Marshall Applewhite. Menurut laporan The New York Times, ia mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa ada pesawat luar angkasa yang tersembunyi di balik kemunculan Komet Hale-Bopp. Ia mengatakan bahwa jika mereka meninggal, jiwa mereka akan dijemput oleh pesawat tersebut dan dibawa ke kehidupan lain yang lebih tinggi. Para anggota kelompok ini menyebut tujuan tersebut sebagai "Next Level". Berdasarkan laporan otoritas San Diego County, kematian para anggota tidak terjadi sekaligus, tetapi dalam beberapa tahap selama beberapa hari. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa para korban mengonsumsi campuran obat penenang phenobarbital, alkohol (vodka), serta makanan seperti saus apel atau puding. Seperti dilaporkan CNN, setelah seseorang meninggal, anggota lain yang masih hidup menutupi tubuhnya dengan kain dan merapikannya. Proses ini berlangsung berulang hingga seluruh anggota meninggal.
Polisi juga menemukan sejumlah detail lain di lokasi. Para korban mengenakan pita lengan bertuliskan "Heaven’s Gate Away Team", yang merujuk pada serial televisi Star Trek. Selain itu, di dalam saku pakaian mereka ditemukan sejumlah uang dalam jumlah kecil, sekitar lima dolar dan beberapa koin. Dalam wawancara yang dikutip ABC News, mantan anggota menyatakan bahwa uang tersebut disiapkan sebagai bagian dari keyakinan mereka, yakni sebagai "bekal" untuk perjalanan setelah kematian.
Sekte ini tidak seperti kelompok religius konvensional; mereka memiliki kemampuan teknis yang mumpuni dan mendanai hidup melalui jasa desain web profesional. Sebagaimana dilaporkan oleh The Guardian, hingga hari ini situs web resmi mereka masih dibiarkan aktif dengan tampilan yang tidak berubah sejak 1997. Situs itu kini berdiri sebagai monumen digital yang mengingatkan dunia tentang betapa kuatnya pengaruh sebuah keyakinan ekstrem yang dibungkus dengan narasi teknologi masa depan. Lebih dari dua dekade kemudian, kasus ini masih menjadi rujukan dalam studi tentang kelompok kepercayaan ekstrem. Sejumlah mantan anggota masih hidup dan memberikan kesaksian dalam berbagai liputan media.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....