Job Hugging, Strategi Gen Z dan Milenial Mempertahankan Pekerjaan

  • 31 Agt 2026 11:40 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Generasi Z dan milenial kini menghadapi tantangan baru di dunia kerja yang membuat sebagian pekerja memilih bertahan di pekerjaan yang sebenarnya sudah tidak sesuai dengan keinginan mereka. Kondisi ini dikenal dengan istilah job hugging. Fenomena tersebut berbeda dengan job hopping, yakni kebiasaan berpindah pekerjaan secara berkala demi memperoleh pengalaman baru, gaji lebih tinggi, maupun perkembangan karier yang lebih cepat.

Secara sederhana, job hugging menggambarkan kondisi ketika seseorang tetap bertahan dalam pekerjaannya meski merasa tidak bahagia, kurang tertantang, tidak terlibat, atau tidak puas dengan peran yang dijalani. Dikutip dari NDTV, keputusan untuk bertahan umumnya dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap ketidakpastian yang mungkin muncul jika seseorang berganti pekerjaan. Tren ini menunjukkan perubahan dari masa pascapandemi ketika berpindah pekerjaan kerap dipandang sebagai bagian dari ambisi dan pertumbuhan karier.

Para pekerja yang melakukan job hugging bukan selalu bertahan karena menyukai pekerjaannya. Pendiri BoldHR, Rebecca Houghton, mengatakan bahwa mereka memilih bertahan karena alternatif yang tersedia dianggap lebih buruk. Dikutip dari News.com.au, keamanan kini menjadi pertimbangan penting bagi banyak pekerja. Alih-alih mengejar peluang baru, mereka lebih memilih kepastian berupa pekerjaan dan penghasilan tetap. Dengan demikian, perilaku tersebut lebih berkaitan dengan kehati-hatian daripada loyalitas terhadap perusahaan.

Fenomena job hugging juga tidak terlepas dari kondisi ekonomi dan pasar kerja global. Dikutip dari CNBC, aktivitas perekrutan telah melambat secara signifikan dan berada pada level terendah sejak 2013. Terbatasnya peluang kerja membuat pekerja semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait karier. Ekonom ketenagakerjaan ZipRecruiter AS, Nicole Bachaud, menyebut ketidakpastian pasar saat ini turut mendorong karyawan untuk mempertahankan posisi yang sudah mereka miliki.

Dari sisi psikologis, bertahan di pekerjaan yang tidak sesuai juga dapat menimbulkan risiko dalam jangka panjang. Psikolog klinis Dr. Kaitlin Harkess menjelaskan bahwa job hugging memang dapat memberikan rasa aman dan lega dalam jangka pendek, tetapi pekerjaan serta lingkungan yang tidak sesuai dapat mengikis kepercayaan diri dan motivasi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hilangnya keterlibatan, burnout, meningkatnya kecemasan dan depresi, serta membuat seseorang semakin merasa tidak berdaya dan terjebak karena terlalu lama bertahan akibat rasa takut dan sunk cost.

Meski demikian, tidak semua orang yang memilih bertahan dalam pekerjaan dapat disebut melakukan job hugging. Seseorang bisa saja sengaja mempertahankan pekerjaannya karena stabilitas yang diperoleh memungkinkan mereka lebih fokus pada keluarga atau minat di luar pekerjaan. Menurut Dr. Harkess, perbedaan utamanya terletak pada motivasi. Job hugging yang sehat merupakan pilihan sadar untuk menghadapi ketidaknyamanan sambil tetap bergerak menuju hal yang dianggap penting, sedangkan job hugging yang tidak sehat didorong oleh ketakutan terhadap ketidakpastian. Dari luar keduanya mungkin terlihat sama, tetapi motivasi antara memilih dan terjebak dapat memberikan dampak yang berbeda terhadap kualitas hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....