Mengenal Food Noise, 5 Fakta tentang Kondisi yang Membuat Ingin Makan Terus

  • 30 Jun 2026 19:22 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Belakangan ini istilah 'food noise' semakin sering muncul, terutama sejak meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan golongan GLP-1 seperti Ozempic. Namun apa sebenarnya food noise? GLP-1 atau 'Glucagon-Like Peptide-1' merupakan obat resep yang bekerja meniru hormon alami tubuh untuk membantu mengatur kadar gula darah sekaligus mengendalikan nafsu makan. Banyak pengguna obat ini mengaku pikiran mereka tentang makanan menjadi lebih tenang setelah mengonsumsi obat tersebut.

Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan 'food noise'? Meski belum menjadi diagnosis medis secara resmi, para ahli kesehatan menyebut kondisi ini cukup umum terjadi, khususnya pada orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan atau mengatur pola makan sehari-hari.

Dilansir dari Men's Health, berikut penjelasan seputar food noise yang kerap muncul saat diet.

1. Apa Itu Food Noise?

Ahli gizi Sandra Zhang menjelaskan bahwa istilah ini digunakan untuk menggambarkan pikiran yang terus-menerus muncul mengenai makanan, keinginan makan, atau kapan waktu makan berikutnya. "Food noise adalah pikiran yang menetap dan mengganggu tentang makanan, bahkan ketika seseorang sebenarnya tidak sedang lapar secara fisik," ujarnya.

Seseorang yang mengalami 'food noise' bisa terus memikirkan camilan di kantor, menu makan malam setelah baru selesai makan siang, atau merasa bersalah setelah makan sehingga sulit berkonsentrasi pada aktivitas lain.

2. Bentuk Food Noise

Menurut para ahli, 'food noise' sering muncul sebagai dialog di dalam hati atau pikiran tentang makanan yang berulang dan sulit dihentikan. Misalnya, seseorang terus bertanya pada dirinya sendiri, "Apa yang harus saya makan nanti?", "Apakah saya sudah makan cukup?", atau "Saya tidak boleh makan itu, tetapi saya sangat ingin mencobanya." Pikiran semacam ini dapat muncul sepanjang hari meski tubuh tidak benar-benar membutuhkan makanan. Ahli kesehatan Kelly Allison dari Penn Medicine, mengatakan tekanan dan frekuensi pikiran tentang makanan dapat mengganggu fokus seseorang saat bekerja atau berbicara dengan orang lain karena perhatian terus kembali pada makanan.

3. Sering Dialami Orang yang Sedang Diet

Hingga kini belum ada data pasti mengenai jumlah orang yang mengalami 'food noise' karena istilah tersebut belum diakui sebagai diagnosis medis resmi. Namun, beberapa laporan menunjukkan kondisi ini cukup umum, terutama pada individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang sedang menjalani program penurunan berat badan atau diet. Salah satu laporan menyebut sekitar 57% orang dalam kelompok tersebut mengalami 'food noise'. Menurut para ahli, kondisi ini juga dapat dialami baik oleh pria maupun wanita. Food noise juga bukan berarti seseorang memiliki kontrol diri yang lemah dalam mengendalikan pola makan.

4. Tanda-tanda Food Noise

Sandra Zhang menyebut seseorang mungkin mengalami 'food noise' jika terus-menerus memikirkan makanan, sulit mengalihkan perhatian dari keinginan makan, atau tetap makan meski sudah kenyang. Selain itu, rasa cemas terhadap makanan dan kebiasaan terus menghitung, membatasi, atau menebus asupan makan dengan diet ketat maupun olahraga berlebihan juga dapat menjadi tanda 'food noise'. Penjelasan ilmiahnya cukup sederhana, yakni otak terus memberi perhatian berlebih pada makanan sehingga pikiran tersebut mendominasi aktivitas sehari-hari dan memengaruhi pengambilan keputusan terkait makan.

5. Obat GLP-1 Disebut Bisa Meredakan Food Noise

Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa otak memiliki reseptor GLP-1 yang berperan dalam mengatur perilaku makan. Obat golongan GLP-1, termasuk semaglutide yang dikenal melalui merek Ozempic, bekerja dengan meniru hormon alami tubuh sehingga sinyal kenyang dan pengendalian nafsu makan menjadi lebih kuat. Ahli kesehatan Kelly Allison mengatakan banyak pasien merasa lebih mudah menikmati satu kali makan tanpa terus memikirkan makanan setelah menggunakan obat golongan GLP-1. Selain membantu mengurangi nafsu makan, obat ini juga memengaruhi sistem penghargaan di otak sehingga rasa ingin mengonsumsi makanan tertentu atau ngidam dapat berkurang dan 'food noise' menjadi lebih tenang. Tentunya penggunaan obat golongan GLP-1 ini tak boleh sembarangan, harus di bawah pengawasan dokter.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....