Jejak Sejarah Johannes Dimara, Pahlawan Nasional dari Timur Indonesia

  • 26 Jun 2024 12:15 WIB
  •  Biak

KBRN, Biak : Lahir di kampung Korem Biak Utara Kabupaten Biak Numfor Papua pada 16 April 1916, Mayor TNI Johannes Abraham Dimara merupakan pahlawan nasional Indonesia yang juga memiliki andil besar turut memperjuangkan pengembalian wilayah Irian Barat ke NKRI. Sepeninggal orangtuanya Ia bertumbuh dewasa bersama orangtua angkatnya, seorang guru asal Ambon yang ketika itu bertugas di Biak Utara.

Kisah ini diceritakan Agripa Dimara, cucu dari sang Pahlawan yang kini pun telah lanjut usia. Sebutan “Tete” di Papua yang berarti “Kakek” dalam bahasa Indonesia, begitulah Agripa sebagai cucu memanggil sang Pahlawan Nasional “Tete Johannes Dimara”. Dengan penuh semangat Ia bercerita lebih lanjut tentang sosok sang pahlawan, yang juga berdasarkan cerita turun-temurun dari orangtua dan keluarga.

Dengan kepribadian baik terhadap orang – orang di sekitar kampung, sosok yang tangguh dan kecerdasan yang dimiliki, menggerakan hati guru asal Ambon tersebut mengadopsi Johannes Abraham Dimara, membesarkan serta mendidiknya sehingga Ia pun berhasil menyelesaikan pendidikan di Ambon, dan akhirnya memutuskan untuk turut menjadi pejuang bagi negara, Republik Indonesia.

“Ya, Johannes Dimara adalah tete kami, dahulu di sini semua rumah berlabuh, dia lahir di sini, korem Biak Utara. Seiring berjalannya waktu dia bertumbuh besar dalam pengasuhan orangtua angkatnya, ada guru asal Ambon yang dulu bertugas di sini tepatnya di kampung Warsa, ketika itu semua masih dalam penjajahan Belanda. Ke mana pun guru Ambon pergi, dia membawa serta Tete kami, Tete Johannes Dimara, hingga berpindah tugas ke Ambon. Tete Johannes Dimara merupakan sosok anak yang kuat dan pintar. Dia lalu menamatkan sekolahnya di Ambon dan memutuskan untuk menjadi pejuang, dia ingin melawan dan mengusir penjajah Belanda dari Indonesia," jelas Agripa saat diwawancarai di kediamannya.

Dikutip dari Wikipedia, setelah menyelesaikan pendidikan, karena rasa cintanya yang besar terhadap tanah air dan bangsa Johannes Abraham Dimara memutuskan untuk ikut berjuang demi keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia. Dia turut berjuang dalam pembebasan wilayah Irian Barat dari tangan penjajah Belanda kembali kepada Indonesia dan diangkat menjadi ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat) serta menjadi seorang TNI pada 1954. Ketika diketahui oleh tentara Belanda Ia ditangkap & dibuang ke Digul lalu dibebaskan pada 1960.

Saat parade 17 Agustus di depan istana, Johannes Dimara berjalan dengan mengenakan rantai yang terputus pada kedua tangan dan kakinya sambil berteriak “merdeka”. Hal ini membuat Bung Karno sangat kagum. Dari sosok Dimara inilah kemudian Presiden Soekarno terinspirasi mendirikan monument patung 'Pembebasan Irian Barat' yang hingga kini berdiri megah di tengah lapangan Banteng Jakarta Pusat, berjarak sekitar 1,5 km dari Istana Negara. Dimara menceritakan hal itu dalam buku yang ditulis oleh Carmelia Sukmawati berjudul Fai Do Ma, Mai Do Fa, Lintas Perjuangan Putra Papua, J.A. Dimara (2000)”. Untuk mengenang jasanya, patung Johannes Abraham Dimara pun dibuat pada sebuah taman, yaitu Taman Dimara dan Yos Sudarso, diresmikan pada tahun 2016 berlokasi di Mandala Biak, Papua.

Patung Johannes Abraham Dimara Pahlawan Nasional Indonesia di Taman Dimara dan Yos Sudarso Biak, Papua (Foto : RRI / Try Ryan)

Ketika Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora, Johannes Abraham Dimara menjadi contoh sosok pemuda Papua yang ikut menyerukan bersama-sama Bung Karno di Yogyakarta, serta menyuarakan kepada seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat, agar mendukung penyatuan Irian Barat ke dalam pangkuan NKRI. Dimara lalu menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta tepatnya pada 20 Oktober 2000 dalam usia 84 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta selatan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....