Merajut Budaya Papua, Menenun Masa Depan Anak

  • 13 Agt 2026 16:19 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas, sebuah usaha kecil berdiri sederhana di kawasan Yenures Biak - Papua. Bukan sekadar tempat menjual aksesoris , melainkan di tempat inilah, Mama Yolanda Manngaprouw merajut harapan. Satu per satu bulu kasuari, kerang, buah pinang, kayu, bambu, hingga kain batik, diubah menjadi pernak-pernik yang sarat dengan identitas budaya Papua.

Sejak 2016, Mama Yolanda menjalankan UKM bernama kandorwau secara mandiri. Tidak ada modal besar. Tidak ada bantuan khusus dari pemerintah. Merajut impian yang ada anyalah kemauan untuk terus berjalan. Ketekunan dan kesabaran menjadi alasan yang jauh lebih besar di balik usaha itu. Mama Yolanda memiliki tiga anak yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Hasil dari penjualan aksesoris Papua sebisa mungkin disisihkan untuk membantu biaya kuliah mereka.

"Mama tidak punya bantuan dari pemerintah. Cuma Mama usaha sendiri. Jadi kalau ada orang belanja, uang itu Mama pakai kelola lagi, karena Mama takut usaha ini macet. Kalau ada lebih, baru Mama kirim anak-anak yang kuliah. Mama punya anak tiga yang kuliah." Ucap mama yolanda.

Setiap hari, Mama Yolanda datang dari Distrik Yendidori menuju tempat usahanya di Yenures. Jarak yang cukup jauh tidak menyurutkan langkahnya. Dari pagi hingga sekitar pukul enam atau tujuh malam, ia menunggu pelanggan. Ketika ada kegiatan keagamaan, usahanya ditutup sementara. Tempat berjualan itu pun bukan miliknya sendiri. Mama Yolanda hanya menumpang tempat untuk menjalankan usaha. Di balik aksesoris yang tampak sederhana, ternyata ada proses panjang. Bahan baku tidak semuanya tersedia di Biak. Bulu kasuari, misalnya, dipesan dari Manokwari. Sementara bahan lainnya seperti kerang diperoleh dari warga kampung. Ada pula bulu ayam, lem, kain batik, karpet, dan berbagai bahan lain yang harus dibeli sebelum sebuah aksesoris selesai dibuat.

Salah satu produk yang dibuat sendiri adalah mahkota berbahan bulu kasuari. Harganya bervariasi, tergantung kondisi dan kebutuhan pembeli. Bahkan ketika pelanggan sedang membutuhkan, Mama Yolanda mengaku rela memberikan harga lebih rendah. Sebab baginya, usaha ini bukan semata-mata mengejar keuntungan. yang penting, uang kembali berputar. Modal bisa dipakai membeli bahan lagi ketika ada keuntungan lebih, uang itu kembali kepada anak-anaknya yang bersekolah dan kebutuhan sehari hari. Selain menjual, Mama yolanda juga menyewakan berbagai aksesori tersebut . Terutama ketika ada kegiatan atau acara yang membutuhkan perlengkapan bernuansa budaya Papua. Kalung, mahkota, hiasan kepala dan berbagai pernak-pernik lainnya dipinjam oleh kelompok-kelompok yang mengikuti kegiatan di hotel maupun acara lainnya.

"Mama beli bulu kasuari, Mama pesan ke Manokwari. Kalau ada uang, Mama kirim, baru barangnya datang. Kalau ada kegiatan, mereka datang kemari, pinjam Mama punya. Ada kalung-kalung, hiasan, lengkap dengan yang lainnya." "Ujarnya.

Produk yang ditawarkan cukup beragam. Ada asisom, sisir tradisional berbahan kayu atau bambu. Ada kalung dari kerang dan buah pinang, gelang sarak, hiasan dinding, anting, hingga aksesori dari bulu kasuari. Harganya pun beragam, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah, bahkan lebih untuk produk tertentu. Menariknya, keterampilan membuat aksesoris itu dipelajari Mama Yolanda secara otodidak. Ia belajar dengan melihat tutorial di YouTube. Tidak ada sekolah khusus. Tidak ada pelatihan formal. Hanya rasa ingin tahu, kemauan mencoba, lalu terus berproses. Namun, mempertahankan usaha kecil bukan perkara mudah. Persoalan terbesar yang dihadapi hingga kini masih adalah modal. Ketika uang hasil penjualan habis untuk kebutuhan usaha dan biaya kuliah anak, ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli bahan baku berikutnya. Akibatnya, usaha bisa berhenti sementara.

Disinilah perjuangan Mama Yolanda terasa. Usaha kecil ini mungkin tidak seperti memiliki toko aksesoris besar, tidak pula ditopang dengan modal yang kuat. Tetapi dari tempat sederhana itu, ia mempertahankan dua hal sekaligus yaitu pendidikan anak-anaknya dan warisan budaya Papua. Ia mengubah bahan-bahan dari alam dan lingkungan sekitar menjadi karya yang bisa dikenakan, dipamerkan, sekaligus memperkenalkan identitas Papua kepada orang lain.Kini, harapannya sederhana. Ia ingin usahanya terus berjalan.Tidak macet karena kekurangan modal. Dan ia berharap pemerintah memberi perhatian kepada pelaku UKM seperti dirinya.

"Mama hanya lihat-lihat saja. Kadang Mama buka di YouTube, Mama lihat bagaimana cara membuatnya. Mama mau beli bulu ayam, mau beli lem lagi, sudah tidak ada uang. Makanya Mama duduk tunggu kalau ada yang belanja. Mama minta supaya pemerintah perhatikan Mama punya usaha ini. Supaya ke depan jangan macet. Mama ingin jalan terus."Ucapnya.

Dari tangan mama Yolanda Manggaprouw , sebuah usaha kecil terus bergerak. Bukan hanya untuk mendapatkan rupiah. Tetapi untuk memastikan anak-anaknya tetap bersekolah, sekaligus menjaga agar aksesoris dan karya budaya Papua tetap hidup di tengah zaman. Karena terkadang, dari sebuah usaha kecil, tumbuh harapan yang begitu besar.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....