Gunung Putih, Pesona Alam di Atas Tebing Biak

  • 13 Agt 2026 16:22 WIB
  •  Biak

RRI.CO.ID, Biak – Pernahkah anda membayangkan menikmati hamparan laut dan keindahan Kota Biak dari ketinggian? Di balik perjalanan yang melelahkan, terdapat sebuah tempat yang menawarkan panorama alam yang begitu memanjakan mata. Namanya gunung putih, sebuah kawasan wisata yang berada di Desa Anggraidi, Kabupaten Biak Numfor Papua. Untuk mencapai puncaknya, pengunjung harus menapaki jalan dan tangga sederhana. Namun, rasa lelah itu seakan terbayar lunas ketika tiba di atas. Dari ketinggian, birunya laut terbentang luas. Pemandangan Kota Biak pun terlihat begitu indah.

Tempat yang kini dikenal sebagai Gunung Putih ini, pada awalnya hanyalah sebuah tebing yang belum tertata. Belum ada rumah, belum ada fasilitas wisata seperti sekarang. Hanya hamparan tebing yang kemudian dilihat memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi tempat wisata. Bapak Septinus Rumpaidus, seorang purnawirawan TNI Angkatan Darat sekaligus pengelola lokasi wisata ini, yang melihat potensi tersebut. Sejak sekitar tahun 2019, bersama keluarga, ia mulai menata kawasan ini secara sederhana.

“Dulu saya lihat tempat ini bagus. Saya pikir, bagus kalau dijadikan tempat wisata. Jadi kita survei dulu, kemudian jalan naik dibersihkan dan ditata.” Ucapnya.

Upaya sederhana itu ternyata mendapat respons positif dari masyarakat. Foto-foto keindahan Gunung Putih mulai dibagikan melalui media sosial. Perlahan, tempat ini semakin dikenal, terutama di kalangan anak-anak muda. Hari Minggu menjadi salah satu waktu yang paling ramai. Anak-anak muda datang berkelompok. Mereka mendaki hingga ke atas untuk menikmati pemandangan, berfoto, dan mengabadikan momen. Salah seorang pengunjung, Febrian, mengaku senang ketika pertama kali datang ke Gunung Putih.

Senang sekali karena pemandangannya juga indah. Dari sana kita bisa lihat pantai dan pemandangan di sekitar. Indah sekali. Kalau bisa, tangganya ditambah dan diberi peganggan supaya kalau hujan tidak licin. Kemudian tempatnya juga bisa ditata supaya semakin indah.” Ujar Febrian.

Namun, keindahan Gunung Putih bukan berarti tanpa kekurangan. Salah satu fasilitas yang masih perlu mendapat perhatian adalah akses menuju puncak. Tangga yang tersedia masih sederhana dan sebagian dibuat secara manual. Ketika hujan turun, jalur menuju atas bisa menjadi licin dan cukup berbahaya. Kondisi cuaca memang menjadi salah satu kendala bagi pengunjung. Saat cuaca cerah, jumlah pengunjung bisa meningkat. Namun ketika hujan, sebagian masyarakat memilih untuk tidak mendaki karena mempertimbangkan keselamatan. Menurut pengelola, jumlah pengunjung juga mengalami perubahan yang cukup besar sebelum dan sesudah pandemi. Pada masa ramai, jumlah pengunjung dalam satu minggu bahkan bisa mencapai sekitar dua ratus hingga tiga ratus orang.Namun pada waktu-waktu tertentu, hanya beberapa orang yang datang.

Meski dikelola secara sederhana, Gunung Putih juga memberikan sedikit pemasukan bagi pengelolanya. Pengunjung yang ingin naik ke kawasan wisata dikenakan tarif sekitar lima ribu rupiah per orang. Sementara untuk kendaraan yang diparkir di bawah, dikenakan biaya yang relatif terjangkau. Namun bagi pengelola, tujuan utama bukan semata-mata keuntungan. Ada harapan yang jauh lebih besar: agar Gunung Putih dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Anggraidi.

“Kalau ramai, satu minggu bisa dua ratus lebih, sekitar dua ratus lima puluh sampai tiga ratus. Tapi kalau cuaca kurang bagus, kadang hanya dua atau tiga orang yang naik. Kalau pemerintah ada yang mau membantu, mungkin bisa dibuat tangga atau fasilitas untuk naik ke atas. Harapan saya ada perhatian, khususnya untuk membantu supaya wisata ini bisa terus dilanjutkan.”Ungkapnya.

Harapan serupa datang dari masyarakat Desa Anggraidi bagi mereka, Gunung Putih bukan sekadar tempat untuk menikmati pemandangan. Tempat ini diharapkan mampu menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus membuka peluang bagi generasi muda di masa mendatang.

“Harapan saya, Gunung Putih ini bisa dibuat untuk masa depan anak-anak dan masyarakat di sini. Mudah-mudahan bisa ditata menjadi tempat wisata yang lebih baik.” Ucap Septinus.

Bahkan, ada cita-cita agar kawasan ini dapat dikembangkan menjadi lokasi wisata yang lebih beragam, termasuk kemungkinan menjadi tempat olahraga dirgantara seperti paralayang. Bila di bayangkan eluncur dari ketinggian Gunung Putih, menyaksikan birunya laut Biak dari udara, sembari menikmati bentangan alam Papua yang begitu luas. Tentu, semua itu membutuhkan perencanaan, penataan, fasilitas, serta dukungan berbagai pihak. Karena sebuah tempat wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Ia membutuhkan akses yang aman, fasilitas yang memadai, kebersihan, pengelolaan yang baik, dan yang tidak kalah penting, keterlibatan masyarakat setempat.

Gunung Putih mengajarkan kita bahwa sebuah destinasi wisata dapat lahir dari sesuatu yang sederhana. Berawal dari sebuah tebing yang belum tertata. Kemudian muncul sebuah gagasan. Dilanjutkan dengan kerja keras, sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya, tempat itu menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, menikmati alam, mengabadikan kenangan, sekaligus melihat potensi masa depan. Jaraknya yang relatif dekat dari pusat kota menjadi salah satu keunggulan Gunung Putih. Perjalanan menuju lokasi mungkin membuat kaki terasa lelah. Namun, ketika sampai di puncak, indahnya hamparan laut di hadapan mata seolah menjadi hadiah dari setiap langkah yang telah dilalui.

Gunung Putih bukan hanya tentang perjalanan menuju tempat yang tinggi. Ia adalah cerita tentang masyarakat yang melihat potensi, tentang anak-anak muda yang menemukan ruang untuk menikmati alam, dan tentang harapan agar keindahan Biak dapat terus dijaga dan dikembangkan. Dari Desa Anggraidi, kita belajar bahwa potensi wisata bisa tumbuh dari kepedulian dan kemauan untuk memulai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....