Kekayaan Budaya Jawa Timur Meriahkan Karnaval Budaya Nusantara di Biak Numfor
- 13 Agt 2026 07:05 WIB
- Biak
RRI.CO.ID,Biak — Di bawah langit Biak yang cerah, Rabu sore, 12 Agustus 2026, jalanan dari depan Telkom Mandala hingga Jalan Imam Bonjol berubah menjadi panggung raksasa. Langkah kaki berirama, suara musik tradisional bergema, dan warna-warni busana adat melengkung indah membelah udara. Di tengah barisan karnaval yang memadati jalan itu, kehadiran Paguyuban Warga Jawa Timur Kabupaten Biak Numfor tampil begitu memukau, membawa semangat kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia lewat rentetan kesenian yang sarat makna.
Karnaval Budaya Nusantara yang digelar Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor ini menjadi ruang pertemuan yang hangat. Berbagai paguyuban, komunitas, dan organisasi masyarakat tampil bergantian, mempersembahkan keindahan budaya masing-masing lewat tarian, busana, dan atraksi khas. Di sanalah warga Jawa Timur menampilkan wajah budaya mereka yang kaya dan beragam.

Ketua Paguyuban Warga Jawa Timur Biak Numfor, Iwan Ismulyanto, tampil memantau barisan dengan senyum lebar. Ia menyampaikan, keikutsertaan mereka adalah ruang yang diberikan panitia bagi seluruh paguyuban warga Nusantara untuk tampil meramaikan peringatan HUT RI ke-81.
"Kami menyambut baik kesempatan ini. Bagi kami, ini bukan sekadar tampil dalam barisan, melainkan bentuk syukur dan kegembiraan atas hari lahir bangsa Indonesia yang ke-81 tahun ini."ujarnya.
Maka, dari tangan kreatif warga Jawa Timur di Biak, lahirlah rentetan penampilan yang mengundang decak kagum, diantarnya Turunggojati, Kesenian gabungan Reog Ponorogo dan ragam seni tradisional lainnya hadir dengan gagah. Masing-masing sekitar 50 penari bergerak beriringan, menyimbolkan kekuatan dan kebersamaan dalam semangat persatuan bangsa.

Dari Malang hadirlah Bantengan. Bentuk sosok banteng yang tampil gagah, bergerak diiringi musik kuno yang menembus ingatan masa lalu. Ada kesan sakral saat irama musik tradisional zaman dulu mengalun, mengingatkan pada akar budaya yang tak boleh dilupakan.
Dan dari Bojonegoro, terdengar alunan Karawitan. Ditampilkan dengan tronton terbesar, sekitar 50 pengrawit menghidupkan nada-nada yang lembut namun berwibawa. Bunyi gamelan berpadu seirama di sepanjang rute karnaval.
Secara keseluruhan, ada 14 pilar kesenian yang diturunkan. Ratusan personil berjalan dengan mengenakan pakaian adat daerah masing-masing, melangkah beriringan dalam satu niat yaitu merayakan kemerdekaan lewat budaya.
Di tengah derap langkah dan alunan musik itu, tersirat pesan yang lebih dalam. Budaya Jawa Timur yang tampil megah hari ini bukan sekadar pertunjukan semata. Ia adalah jembatan penghubung antara tanah asal dan tanah tempat mereka kini berpijak, Biak Numfor.
"Terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah memberi ruang ini. Lewat kesenian, kami ingin menunjukkan bahwa di mana pun kami berada, kami tetap bagian dari bangsa ini. Budaya kami kaya, dan kekayaan itu kami bagikan bersama saudara-saudara kami di Biak," ujar Iwan mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....