Dibalik Tongkat Putih, ada Mimpi yang Besar
- 03 Agt 2026 15:37 WIB
- Biak
RRI.CO.ID, Biak - Pernahkah kita membayangkan bagaimana menjalani kehidupan tanpa dapat melihat dunia dengan mata? Bagi sebagian orang, kehilangan penglihatan mungkin terasa seperti akhir dari banyak impian. Affandy ahmad Rumbarar adalah sosok inspiratif penyandang disabilitas netra asal Biak -Papua. Minimnya kesempatan, hingga pandangan masyarakat yang belum sepenuhnya memahami kemampuan mereka. Namun di balik berbagai tantangan itu, lahir kisah-kisah yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah harapan, karena bagi mereka keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Ketika dikunjungi RRI di Panti Sosial Bina Netra Biak, pada Senin, 03 Agustus 2026. Ia menjelaskan bahwa kemandirian bukan sekadar mampu melakukan sesuatu sendiri, tetapi juga keberanian untuk terus berusaha, bermimpi, dan memberi makna pada hidup. Kemandirian bagi disabilitas itu sangat penting karena ketrampilan yang diajarkan kepada mereka menjdi dasar utama untuk massa depan yang baik.
“Sebelum masuk panti, waktu masih kecil, kalau mendengar ustaz menyebut surat dan ayat Al-Qur'an, saya membuka Al-Qur'an biasa tetapi tidak mengerti karena saya tidak bisa membacanya. Setelah belajar Al-Qur'an Braille di panti, Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa mengetahui surat dan ayat yang dimaksud. Saya juga belajar hadis dan ilmu agama lainnya”
“Kemandirian bagi penyandang disabilitas itu seperti yang kami pelajari di sinii kami diajarkan untuk hidup mandiri melalui berbagai keterampilan, misalnya berdagang dan keterampilan lainnya. Tujuannya agar ketika nanti kami sudah tidak tinggal di panti, kami tetap bisa hidup mandiri”.Ucapnya”.
Sebagai penyadang disabilitas teknologi menjadi jembatan yang membuka banyak kemungkinan. Melalui aplikasi pembaca layar, Afandi dapat membaca pesan, mengenali nominal uang, bahkan memahami isi gambar yang dikirim melalui telepon genggam. Menurut affandy Hal-hal yang dahulu hanya bisa dilakukan dengan bantuan orang lain, kini dapat ia kerjakan sendiri. Teknologi tidak menggantikan semangat. Namun teknologi memberikan kesempatan yang lebih setara bagi penyandang disabilitas untuk belajar, bekerja, dan berkomunikasi.
“Sekarang saya bisa mengoperasikan telepon genggam sendiri karena sudah ada aplikasi pembaca layar. Dulu saya juga belajar menggunakan komputer dengan bantuan aplikasi pembaca layar, sehingga sekarang bisa menggunakannya secara mandiri,”Ujarnya.
Perjalanan menuju kemandirian tentu tidak selalu mudah. Saat berjualan, tidak setiap hari dagangannya laris. Bahkan lebih sering orang memilih memberi uang daripada membeli barang yang ia jual. Namun, bagi Afandi, setiap tantangan adalah pelajaran untuk terus berusaha. Karena ia percaya, hasil terbaik selalu datang kepada mereka yang tidak menyerah
“Kalau tantangan, salah satunya saat berjualan. Kadang hasilnya bagus, kadang kurang. Orang lebih sering memberi uang daripada membeli barang dagangan kami. Ada yang membeli juga, tetapi tidak terlalu sering. Contohnya sapu. Biasanya laris ketika musim masuk sekolah atau mahasiswa baru masuk kuliah. Kadang ada orang yang datang langsung ke rumah untuk membeli, tetapi di luar itu pembelinya tidak banyak”. Ucapnya.
Dalam menjalankan aktifitas sehari - hari Afandi juga menyampaikan sebuah harapan. Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada penyandang disabilitas, misalnya jalur khusus bagi penyandang disabilitas dan fasilitas umum lainya menjadi lebih mudah diakses dan kesempatan hidup yang setara benar-benar dapat dirasakan oleh semua. Namun di balik harapan itu, ia juga menitipkan pesan kepada masyarakat. Penyandang disabilitas bukanlah orang yang perlu dikasihani. Mereka membutuhkan kesempatan, penghargaan, dan dukungan. Terkadang, bantuan sederhana seperti membantu menyeberang jalan atau menghentikan ojek sudah menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti bagi mereka.
“ Dukungan dari keluarga sudah cukup baik dari masyarakat, masih ada yang belum memahami penyandang disabilitas. Menurut saya kembali lagi, kalau sudah ada Perda, pemerintah akan memiliki pedoman yang jelas. Di Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 sebenarnya sudah diatur mengenai aksesibilitas, seperti jalur khusus bagi penyandang disabilitas dan fasilitas lainnya. Namun karena regulasinya belum ada di daerah, pelaksanaannya juga belum maksimal. Ucapnya.”
Dari kisah Afandi kita belajar bahwa setiap manusia memiliki perjuangan yang berbeda. Keterbatasan fisik tidak pernah membatasi seseorang untuk memiliki cita-cita. Menurutnya yang membatasi hanyalah ketika kita berhenti percaya pada diri sendiri. Afandi masih memiliki mimpi yang sederhana namun begitu bermakna. Ia ingin hidup mandiri, memiliki pekerjaan, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan seperti siapa pun. Impian yang mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, tetapi membutuhkan perjuangan luar biasa untuk mewujudkannya.
Dibalik tongkat putih ada mimpi yang besar. Dari kisah Affandy ini mengingatkan kita belajar melihat dengan hati. Menghargai setiap orang tanpa memandang kekurangan maupun kelebihannya. Karena setiap manusia berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkarya, bermimpi, dan meraih masa depan. Seperti yang disampaikan Afandi,
"Jangan pernah berhenti bercita-cita dan bermimpi. Semua orang pasti memiliki masalah, tetapi kita harus terus berusaha mencapai apa yang kita inginkan." Ujarnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....