Batik Khas Biak Ditengah Kemeriahan FBMW 2026
- 08 Jul 2026 14:07 WIB
- Biak
RRI.CO.ID,Biak – Salah satu daya tarik di stan UMKM pada Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 adalah koleksi batik motif khas Biak karya Hairil, pengrajin lokal yang berbasis di Sram Manyori, Biak. Karya ini tidak hanya diminati warga lokal, tetapi juga sudah menembus pesanan hingga ke luar negeri.
Bagi Hairil, setiap helai batik yang ia buat bukan sekadar barang dagangan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan keindahan alam tanah Biak Numfor Papua dengan dunia luar. Namun di balik kebanggaan menghadirkan batik khas Biak, tersimpan perjuangan yang tak sedikit orang tahu.

"Jujur saja, di Biak ini belum ada toko yang menjual bahan untuk membatik. Semua mulai dari kain, pewarna, hingga bahan pengunci warna harus saya pesan dan datangkan jauh dari Yogyakarta," ujar Hairil dengan senyum tulus di sela keramaian pengunjung festival.
Perjalanan bahan baku itu pun tak singkat. Harus dikirim lewat jalur laut, sehingga butuh waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sampai tiba di Biak. Keterbatasan inilah yang kini membuatnya sedikit kewalahan menghadapi tingginya minat masyarakat.
"Syukurlah nama batik khas Biak ini mulai dikenal luas. Bahkan semalam ada pesanan khusus dari seorang mahasiswa asal Biak yang sedang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Ia ingin memakai batik buatan saya untuk hari wisudanya," ceritanya bangga.
Selain kain batik, Hairil juga menciptakan syal batik dengan ornamen khas Biak Numfor.
Setiap garis dan corak yang ada di atas kain adalah cerminan alam Biak. Ia mengambil inspirasi langsung dari kekayaan yang ada di sekitarnya: ikan-ikan berwarna-warni, kerang laut yang unik, hingga burung-burung yang terbang di daratan Biak. Uniknya, teknik pembuatan yang ia gunakan adalah batik cap kertas – mal atau cetakannya pun ia buat sendiri dari limbah bekas kotak rokok, kotak nasi, dan kemasan kue.
"Proses pewarnaannya sama teliti seperti batik tulis, hanya saja cara pengecapnya lebih cepat. Meski begitu, tetap butuh ketelatenan tinggi agar warna dan motifnya keluar sempurna," jelasnya.
Selama berlangsungnya FBMW 2026, Hairil telah memproduksi sekitar 30 lembar kain. Namun antusiasme pengunjung begitu besar, sehingga saat ini tersisa tak lebih dari 5 lembar saja. Harga yang ia tawarkan pun sangat terjangkau, agar semua kalangan masyarakat bisa memiliki karya asli Biak hanya Rp350.000 untuk ukuran 2 meter kain.
Di tengah kesibukan melayani pembeli, harapan Hairil sederhana namun mendalam. Ia berharap ke depannya pemerintah lebih memperhatikan nasib para pengrajin batik lokal, mengingat ini adalah produk asli buatan Biak.
"Selain saya bisa terus berkarya, saat ini saya juga sudah mulai mempekerjakan anak-anak dan ibu-ibu di lingkungan Sram untuk membantu proses produksi. Jika kami didukung, tentu kami bisa lebih giat lagi membuka lapangan kerja dan memperkenalkan batik Biak semakin jauh ke mancanegara," ungkapnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....